
dok. Kemenkes
Penulis: Lidya Thalia.S
TVRINews, Jakarta
Kementerian Kesehatan mencatat Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) telah menjangkau sekitar 70 juta peserta di 10.225 puskesmas sepanjang 2025. Program yang masuk dalam skema Program Hasil Terbaik Cepat (Quick Win) bidang kesehatan ini ditegaskan tidak berhenti pada tahap skrining atau deteksi dini semata.
Pemerintah menekankan bahwa inti dari pemeriksaan kesehatan massal tersebut adalah tindak lanjut yang cepat dan tepat terhadap setiap temuan kelainan kesehatan, guna mencegah penyakit berkembang menjadi lebih parah.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno, menyampaikan bahwa keberhasilan CKG tidak hanya diukur dari jumlah warga yang diperiksa, melainkan dari efektivitas penanganan setelah hasil pemeriksaan keluar.
“Yang utama adalah tindak lanjutnya. Setelah pemeriksaan, harus dipastikan ada follow up. Jika ditemukan tekanan darah tinggi misalnya, langsung dikonsultasikan dan diberikan obat agar tidak berkembang menjadi kondisi yang lebih serius,”kata Pratikno dalam keterangan tertulis, Selasa, 10 Februari 2026.
Data Puskesmas Kecamatan Cilandak menggambarkan pentingnya sistem tindak lanjut tersebut. Dari 81.573 peserta yang diperiksa sepanjang 2025, sebanyak 17,05 persen atau sekitar 13.908 orang memerlukan penanganan medis langsung di puskesmas. Selain itu, 1,85 persen atau lebih dari 1.500 kasus harus dirujuk ke rumah sakit untuk perawatan lanjutan. Artinya, hampir satu dari lima peserta skrining membutuhkan intervensi medis segera.
Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan, Rizka Andalusia, menegaskan bahwa sistem CKG kini dirancang terintegrasi agar tidak ada kasus yang terabaikan setelah pemeriksaan.
“CKG bukan hanya menemukan kasus, tetapi memastikan adanya tata laksana lanjutan. Ini bukan sekadar deteksi, melainkan juga perawatan,”ujar Rizka.
Menurut Rizka, mekanisme tersebut mencakup penanganan langsung untuk penyakit kronis seperti hipertensi dan diabetes di puskesmas, hingga rujukan cepat untuk kasus yang lebih serius, seperti kekurangan enzim pada bayi baru lahir atau penyakit jantung bawaan.
Memasuki 2026, pemerintah memperluas cakupan skrining dengan menambahkan sejumlah penyakit prioritas yang memerlukan tindak lanjut ketat. Pemeriksaan talasemia difokuskan pada balita usia dua tahun dan siswa kelas 7.
Selain itu, skrining kanker paru dan kanker usus besar diperluas bagi laki-laki dan perempuan, serta penambahan deteksi penyakit kulit menular seperti kusta, skabies, dan frambusia.
Seluruh hasil pemeriksaan akan disertai protokol pengobatan maupun rujukan yang jelas, sehingga tujuan deteksi dini benar-benar dapat menekan beban penyakit di masyarakat.
Pendekatan program juga semakin proaktif dengan menghadirkan layanan CKG langsung ke lokasi-lokasi berkumpulnya masyarakat, seperti perkantoran, sekolah, dan komunitas. Dengan sistem rujukan yang terintegrasi, pemerintah berharap masyarakat tidak hanya mengetahui kondisi kesehatannya lebih awal, tetapi juga segera memperoleh pengobatan yang dibutuhkan.
Editor: Redaktur TVRINews
