
Foto: Direktur Jenderal Sains dan Teknologi, Ahmad Najib Burhani (kanan) TVRINews/Nirmala Hanifah
Penulis: Nirmala Hanifah
TVRINews, Jakarta
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) terus mendorong pemerataan pendidikan berkualitas di seluruh Indonesia. Salah satu upaya terbaru adalah melalui Sekolah Garuda, sebuah program yang dirancang khusus untuk siswa-siswi berbakat dan berpotensi tinggi, termasuk mereka yang berasal dari daerah terpencil.
Direktur Jenderal Sains dan Teknologi, Ahmad Najib Burhani, menjelaskan bahwa Sekolah Garuda lahir dari filosofi 1 persen rule. Prinsip ini menekankan pentingnya memberikan fasilitas kepada kelompok kecil siswa yang memiliki kemampuan luar biasa, yang sering kali terlewatkan dalam sistem pendidikan umum.
“Kalau kita bicara inklusivitas, biasanya fokusnya pada kelompok difabel. Tapi ada anak-anak berbakat yang jumlahnya tidak banyak sekitar 1 persen dari populasi yang jarang mendapatkan dukungan maksimal dari negara. Sekolah Garuda hadir untuk menjembatani kesenjangan itu,” ujar Najib
Najib menambahkan, anak-anak yang masuk kategori 1 persen ini seringkali memiliki potensi luar biasa, tetapi tanpa dukungan yang tepat, kemampuan mereka bisa terhambat atau tidak berkembang sepenuhnya.
“Mereka mungkin berbeda dengan teman sekelasnya, tetapi jika diberi kesempatan, mereka bisa mencapai prestasi setara dengan siswa unggulan di kota besar atau bahkan di luar negeri,” tambahnya.
Selain filosofi 1 persen rule, Sekolah Garuda juga mengusung misi pemerataan pendidikan berkualitas di seluruh Indonesia. Menurut Najib, meski di Jawa atau beberapa provinsi lain sudah banyak sekolah unggulan, kenyataannya masih ada wilayah yang sulit menjangkau fasilitas pendidikan sekelas itu.
Contohnya seperti di Nusa Tenggara Timur (NTT), Belitung Timur, Kalimantan Utara (Kaltara), Sulawesi Tenggara, hingga Papua, jumlah sekolah berkualitas masih terbatas.
“Di beberapa daerah, orang tua yang mampu sering mengirim anaknya ke luar negeri, misalnya ke Malaysia, karena sekolah berkualitas di daerahnya sulit ditemukan. Padahal banyak potensi hebat yang ada di sana,” kata Najib.
Ia juga mencontohkan kota seperti Soe di NTT atau wilayah Belitung Timur, yang dulunya memiliki sekolah unggulan, kini fasilitasnya sudah menurun. Begitu juga di Papua Tengah, Papua Pegunungan, Merauke, dan Manokwari, sekolah berkualitas sulit dijangkau.
Sekolah Garuda hadir untuk memastikan anak-anak berbakat dari seluruh penjuru Indonesia memiliki akses yang setara. Program ini tidak hanya membangun sekolah di kota besar, tetapi juga di daerah-daerah yang sebelumnya minim fasilitas pendidikan unggulan.
Dengan demikian, siswa berbakat tidak lagi harus meninggalkan daerahnya atau pindah ke provinsi lain untuk mengembangkan potensi mereka.
Najib menegaskan, Sekolah Garuda bukan sekadar menyalurkan beasiswa atau membangun gedung baru. Filosofi dan pendekatan pendidikannya diarahkan untuk mengembangkan kemampuan intelektual dan karakter siswa, sekaligus memberikan wawasan global.
Sekolah ini juga menjadi bagian dari ekosistem Beasiswa Garuda, yang membuka peluang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi terbaik di dunia, termasuk Amerika Serikat, Eropa, Jepang, Singapura, China, dan Australia.
“Sekolah Garuda adalah solusi strategis. Selain menyiapkan anak-anak untuk menghadapi kompetisi global, kita juga memastikan pemerataan pendidikan berkualitas di seluruh wilayah Indonesia. Semua anak berbakat, dari Aceh hingga Papua, berhak mendapatkan kesempatan yang sama,” ujar Najib menutup pembicaraan.
Dengan filosofi 1 persen rule dan fokus pada pemerataan, Sekolah Garuda kini menjadi simbol ambisi Indonesia dalam mencetak generasi unggul yang tidak hanya pintar, tetapi juga siap bersaing di tingkat global, tanpa meninggalkan akar dan wilayah asal mereka.
Editor: Redaktur TVRINews
