
dok. Kemenperin
Penulis: Lidya Thalia.S
TVRINews, Jakarta
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menilai penyelenggaraan Indonesia International Motor Show (IIMS) 2026 menjadi momentum penting untuk mendorong pemulihan sekaligus memperkuat transformasi industri otomotif nasional menuju arah yang lebih berdaya saing dan berkelanjutan.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, optimisme tersebut sejalan dengan kinerja positif sektor industri manufaktur yang hingga kini masih menjadi tulang punggung perekonomian nasional.
“Sektor industri manufaktur Indonesia terus menunjukkan kinerja yang positif sebagai penggerak utama perekonomian nasional,” ujar Agus dalam keterangan tertulis, Jumat, 6 Februari 2026.
Berdasarkan data Triwulan I–III 2025, Industri Pengolahan Non Migas (IPNM) mencatat pertumbuhan sebesar 5,17 persen atau meningkat Rp92,16 triliun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka tersebut melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di level 5,01 persen.
Kontribusi IPNM terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional mencapai 17,27 persen atau setara Rp3.051,58 triliun. Dari sisi ekspor, sektor ini menyumbang USD227,10 miliar, atau lebih dari 80 persen total ekspor nasional. Sementara itu, realisasi investasi IPNM mencapai Rp552 triliun atau 38,49 persen dari total investasi nasional, dengan penyerapan tenaga kerja lebih dari 20 juta orang.
Agus menegaskan, capaian tersebut tidak terlepas dari peran strategis industri otomotif sebagai salah satu penopang utama sektor manufaktur. Saat ini, industri kendaraan bermotor roda empat didukung 41 pabrikan dengan kapasitas produksi 2,59 juta unit per tahun, sementara industri roda dua dan tiga melibatkan 82 pabrikan dengan kapasitas produksi 11,2 juta unit per tahun. Total investasi di sektor otomotif telah mencapai Rp194,22 triliun, dengan penyerapan tenaga kerja langsung hampir 100 ribu orang.
Di tingkat regional, Indonesia masih mempertahankan posisinya sebagai pasar otomotif terbesar di ASEAN dengan penjualan kendaraan mencapai 865.723 unit pada 2024. Namun demikian, rasio kepemilikan mobil nasional masih tergolong rendah, yakni 99 unit per 1.000 penduduk, jauh di bawah Malaysia, Thailand, dan Singapura. Kondisi tersebut menunjukkan besarnya potensi pertumbuhan pasar domestik ke depan.
Memasuki 2026, industri otomotif mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi. Hal ini didorong oleh kinerja ekspor yang tetap kuat, percepatan pengembangan kendaraan elektrifikasi, serta penguatan permintaan pada akhir 2025. Kemenperin memproyeksikan penjualan mobil nasional pada 2026 berada di kisaran 850 ribu unit, atau meningkat sekitar 5,4 persendibandingkan realisasi 2025.
Meski demikian, pemulihan pasar domestik masih berlangsung bertahap seiring tantangan daya beli masyarakat, pembiayaan, dan dinamika rantai pasok global. Sepanjang 2025, penjualan kendaraan secara wholesale tercatat 803.687 unit, turun 7,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Penjualan ritel juga turun 6,3 persen menjadi 833.712 unit. Di sisi lain, ekspor kendaraan utuh justru meningkat 9,7 persen menjadi 518.212 unit, mencerminkan daya saing Indonesia sebagai basis produksi otomotif global yang tetap terjaga.
Pada segmen tertentu, kendaraan murah ramah lingkungan atau Low Cost Green Car (LCGC) mengalami tekanan dengan penurunan penjualan lebih dari 30 persen sepanjang 2025. Pemerintah pun terus memberikan dukungan melalui skema insentif fiskal untuk mendorong pemulihan segmen tersebut. Sebaliknya, kendaraan elektrifikasi mencatat pertumbuhan signifikan. Penjualan mobil listrik berbasis baterai meningkat dari 43.194 unit pada 2024 menjadi 103.931 unit pada 2025.
Kendaraan hybrid tumbuh 15 persen, sementara penjualan plug-in hybrid melonjak dari puluhan unit menjadi lebih dari 5.000 unit. Secara keseluruhan, penjualan kendaraan elektrifikasi pada 2025 mencapai 175.144 unitatau sekitar 21,8 persen dari total penjualan nasional.
Pemerintah juga terus memperkuat ekosistem industri kendaraan listrik dari hulu hingga hilir, antara lain melalui pengoperasian pabrik sel baterai berkapasitas 10 GWh serta sejumlah fasilitas produksi battery pack. Selain itu, proyek terintegrasi pengembangan baterai kendaraan listrik dengan nilai investasi USD5,9 miliar diproyeksikan mampu memberikan nilai tambah ekonomi hingga USD48 miliar. Program Low Carbon Emission Vehicle pun telah melibatkan 15 perusahaan dan menghasilkan tambahan investasi lebih dari Rp22 triliun.
“Kami berharap IIMS 2026 dapat menjadi katalis penting untuk mempercepat pemulihan sekaligus memperkuat fondasi pertumbuhan industri otomotif nasional, serta menjadi ruang strategis bagi peningkatan kepercayaan konsumen, adopsi kendaraan ramah lingkungan, serta investasi dan inovasi di sektor otomotif,”tuturnya.
Editor: Redaksi TVRINews
