Penulis: Redaksi TVRINews
TVRINews-Palembang, Sumatra Selatan
Program Makan Bergizi Gratis Menjangkau Anak Petani dan Nelayan di Wilayah Terpencil Palembang
Di balik tantangan geografis bantaran Sungai Musi, sebuah inisiatif penguatan gizi mulai mengubah wajah pendidikan di sekolah-sekolah pesisir. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini menyasar para siswa di SD 152 Palembang,
sebuah institusi yang mayoritas pelajarnya tumbuh dari keluarga nelayan dan petani dengan akses transportasi yang terbatas.
Meski distribusi logistik harus menempuh jalur darat dan dilanjutkan dengan transportasi sungai selama 30 menit, program ini konsisten menjangkau 69 siswa serta belasan tenaga pendidik di sekolah tersebut.
Kepala SD 152 Palembang, Hadhori, mengungkapkan bahwa kehadiran program ini membawa dampak signifikan, tidak hanya pada kesehatan fisik siswa tetapi juga pada tingkat kehadiran di kelas. Menurutnya, bantuan pangan ini meringankan beban ekonomi keluarga yang selama ini bergantung pada hasil alam yang tidak menentu.
"Kehadiran MBG sangat membantu bagi anak-anak, terutama siswa dan guru," ujar Hadhori dalam keterangannya, Selasa 10 Maret 2026.
Ia menambahkan bahwa orang tua kini tidak lagi terbebani kewajiban menyiapkan bekal harian, yang seringkali menjadi tantangan tersendiri bagi warga berpenghasilan rendah.
Data internal sekolah menunjukkan adanya korelasi positif antara pemberian makanan bergizi dengan antusiasme belajar. Hadhori mencatat bahwa intensitas absensi siswa menurun drastis sejak program ini diimplementasikan secara rutin. "Setelah ada MBG ini, jarang ada yang tidak sekolah," imbuhnya.
Tantangan Logistik dan Standar Nutrisi
Penyaluran makanan ke titik ini melibatkan koordinasi ketat dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Gandus. Mengingat lokasi sekolah yang tidak dapat diakses melalui jalur darat, makanan harus dipindahkan dari armada mobil ke perahu motor untuk menyeberangi sungai.
Mengenai komposisi menu, pihak sekolah menilai kualitas pangan yang disediakan sudah memenuhi standar kelayakan nutrisi anak sekolah, meskipun preferensi rasa pada anak-anak tetap menjadi evaluasi kecil di lapangan.
Program yang telah berjalan selama satu semester ini diharapkan menjadi kebijakan jangka panjang. Hadhori menegaskan bahwa manfaat nyata yang dirasakan masyarakat di tingkat akar rumput jauh lebih besar dibandingkan diskursus yang berkembang di ruang publik.
"Harapan kami mewakili guru-guru dan anak-anak supaya kegiatan MBG ini terus berlanjut," pungkasnya, sembari menekankan pentingnya konsistensi kebijakan demi masa depan generasi di wilayah perairan.
Editor: Redaktur TVRINews
