
Penulis: Lidya Thalia.S
TVRINews, Jakarta
Pemerintah Indonesia menegaskan pentingnya memperkuat solidaritas dan sinergi antarnegara Asia Tenggara dalam menghadapi dinamika geopolitik global yang kian kompleks, terutama dampak konflik Iran–Amerika Serikat terhadap sektor energi dan pangan.
Hal tersebut disampaikan oleh Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, Yvonne Mewengkang, dalam press briefing di Jakarta, Kamis, 30 April 2026.
Menurut Yvonne, isu tersebut akan menjadi fokus utama dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-48 ASEAN yang akan berlangsung di Cebu, Filipina, pada 7–8 Mei 2026.
“KTT ini akan membahas respons kawasan terhadap dampak konflik global, khususnya terkait ketahanan energi dan pangan. Indonesia akan mendorong penguatan persatuan ASEAN agar mampu merespons tantangan tersebut secara efektif,” ujar Yvonne dalam keterangan yang diterima tvrinews di Jakarta, Kamis, 30 April 2026.
KTT yang mengusung tema “Navigating Our Future Together” ini akan mempertemukan para pemimpin negara anggota ASEAN untuk merumuskan langkah strategis dalam menjaga stabilitas kawasan di tengah tekanan global.
Indonesia, lanjut Yvonne, akan mengedepankan pentingnya kerja sama kolektif dan pendekatan berbasis kolaborasi guna memastikan kawasan tetap tangguh menghadapi potensi krisis, terutama di sektor vital seperti energi dan pangan.
Selain agenda utama KTT, rangkaian pertemuan tingkat menteri juga akan digelar sehari sebelumnya, mencakup isu politik-keamanan, ekonomi, hingga koordinasi lintas sektor di kawasan ASEAN.
Melalui forum tersebut, Indonesia berharap ASEAN dapat tampil sebagai kawasan yang solid, adaptif, dan mampu menjaga stabilitas serta kesejahteraan masyarakat di tengah ketidakpastian global.
Pemerintah juga menilai bahwa penguatan peran ASEAN menjadi kunci dalam menjaga keseimbangan geopolitik kawasan sekaligus memastikan kepentingan negara-negara anggota tetap terlindungi.
Editor: Redaktur TVRINews
