
Penulis: Nirmala Hanifah
TVRINews, Jakarta
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) telah mendorong penguatan kerja sama pendidikan tinggi lintas negara di kawasan ASEAN melalui pengembangan Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh atau Open and Distance Learning (ODL).Hal tersebut, diungkapkan oleh Sekretaris Jenderal Kemdiktisaintek, Togar Mangihut Simatupang.
Togar mengatakan, jika ODL menjadi bagian penting dari transformasi pendidikan tinggi seiring dengan tuntutan pembelajaran yang semakin fleksibel dan berbasis teknologi.
“Melalui ODL, pendidikan tinggi tidak lagi dibatasi ruang dan waktu. Ini menjadi sarana strategis untuk memperluas akses pendidikan bermutu, baik bagi mahasiswa maupun masyarakat,” ujar Togar kutip Rabu, 11 Februari 2026.
Lebih lanjut, ia menerangkan jika pemerintah Indonesia terbuka terhadap penyelenggaraan pendidikan jarak jauh lintas negara selama memenuhi regulasi nasional dan standar mutu yang telah ditetapkan.
“Prinsip kami jelas, kolaborasi internasional dapat dilakukan sepanjang kualitas pembelajaran, akreditasi, dan kesetaraan capaian pembelajaran tetap terjaga,” katanya.
Dikesempatan yang sama, Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemdiktisaintek, Beny Bandanadjaja, menekankan pentingnya mekanisme pengakuan kualifikasi lulusan luar negeri, termasuk dari program ODL.
“Pengakuan lulusan dilakukan melalui proses penyetaraan ijazah yang mengacu pada Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia atau KKNI. Ini untuk memastikan kesetaraan jenjang dan mutu pendidikan,” ujar Beny.
Selain aspek regulasi, Kemdiktisaintek juga mendorong pengembangan ODL melalui kemitraan institusional dengan perguruan tinggi dalam negeri agar memberikan manfaat yang lebih luas bagi pengembangan sumber daya manusia.
“Kerja sama ini sebaiknya tidak berdiri sendiri, tetapi terhubung dengan perguruan tinggi nasional agar menghasilkan nilai tambah, termasuk peluang karier lulusan di kawasan ASEAN,” kata Togar.
Bentuk kolaborasi yang dijajaki meliputi program joint degree, dual degree, pengembangan kurikulum bersama, hingga micro-credential. Skema tersebut dinilai dapat memperkuat posisi Indonesia sebagai mitra strategis dalam ekosistem pendidikan tinggi regional.
Togar juga menekankan, pentingnya keterkaitan kerja sama pendidikan tinggi dengan mobilitas talenta dan kebutuhan pasar kerja.
“Kerja sama internasional harus memberikan dampak nyata. Tidak hanya pada institusi, tetapi juga pada peningkatan kompetensi lulusan dan daya saing tenaga kerja,” ujarnya.
Editor: Redaksi TVRINews
