TVRINews, Jakarta
Dampak kesehatan akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi perhatian pemerintah. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melaporkan sebanyak 174.694 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) ditemukan di tujuh provinsi yang terdampak karhutla sejak Agustus hingga 21 September 2026.
Dari total kasus tersebut, sebanyak 40.363 kasus dialami balita. Data itu diperoleh melalui pemantauan surveilans kesehatan yang dilakukan di wilayah terdampak karhutla.
Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes, Then Suyanti, menyampaikan bahwa pemantauan terhadap kondisi kesehatan masyarakat masih dilakukan. Dari keseluruhan kasus yang terdata, saat ini tersisa 4.533 kasus yang masih dalam pemantauan, sedangkan kasus lainnya telah mengalami perbaikan kondisi.
“Untuk kasus yang masih ada saat ini tercatat 4.533 kasus, sementara sebagian besar lainnya sudah sembuh atau kembali sehat,” ujar Suyanti dalam konferensi pers daring yang dikutip, Rabu, 23 September 2026.
Menurut Suyanti, kondisi tersebut tidak terlepas dari paparan asap karhutla yang membawa partikel halus dan sejumlah zat pencemar. Salah satu yang menjadi perhatian adalah PM2,5 karena partikelnya berukuran sangat kecil sehingga dapat masuk ke saluran pernapasan.
“PM2,5 dan polutan lain yang terdapat dalam asap karhutla dapat berdampak terhadap kesehatan masyarakat,” jelasnya.
Paparan asap dalam jangka tertentu dapat menimbulkan berbagai gangguan pernapasan, mulai dari ISPA hingga memperburuk kondisi penderita asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).
Tidak hanya saluran pernapasan, dampak asap juga dapat dirasakan pada bagian tubuh lainnya. Masyarakat dapat mengalami keluhan seperti mata merah, gatal, hingga rasa perih.
Kemenkes juga mengingatkan adanya risiko terhadap kesehatan jantung dan pembuluh darah akibat paparan polusi udara, terutama bagi masyarakat yang memiliki kondisi kesehatan tertentu dan kelompok lanjut usia.
Karena itu, pemerintah meminta perhatian lebih terhadap masyarakat yang memiliki risiko lebih tinggi ketika kualitas udara memburuk akibat asap karhutla.
Anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita asma dan PPOK, serta pekerja yang harus beraktivitas di luar ruangan menjadi kelompok yang perlu mendapat perlindungan lebih.
“Kami mengingatkan agar kelompok rentan mendapatkan perlindungan dari paparan asap, termasuk anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita asma dan PPOK, serta mereka yang bekerja di luar ruangan,” kata Suyanti.
Kemenkes terus melakukan pemantauan kondisi kesehatan masyarakat di daerah terdampak sebagai langkah untuk mengantisipasi peningkatan gangguan kesehatan selama karhutla masih berlangsung.










