Penulis: Hanifa Paramitha Siswanti
TVRINews, Cirebon
Inovasi canting listrik telah mengubah wajah produksi batik tradisional. Canting ini membuat proses membatik lebih rapi dan hemat biaya sekaligus menarik minat generasi muda dan wisatawan mancanegara untuk terlibat membatik.
Seperti yang dilakukan oleh Paguyuban Godong Djati Cirebon. Peralihan peralatan tersebut meniadakan asap, sehingga menjaga lingkungan tetap bersih sambil tetap mempertahankan warisan budaya tetap lestari.
Theresia Achdiani Sulistyawaningsih selaku sekretaris Paguyuban Godong Djati mengatakan, sebelum beralih ke canting listrik, para perajin pemula menghadapi tantangan dalam menjaga kerapian dan efisiensi membatik.
"Saat pakai canting manual waktu awal usaha, prosesnya masih banyak yang berceceran dan menetes. Lalu kami berpikir bagaimana supaya lebih rapi. Kami cari inovasi dengan membuat batik pakai canting listrik," ujar Achdiani melalui sambungan Zoom pada Selasa, 2 Desember 2025.
Inovasi canting listrik tersebut pun memberikan hasil yang berbeda. Achdiani menambahkan bahwa dengan canting elektronik, proses rengrengan atau penggambaran pola menjadi lebih rapi karena tidak berceceran.
Panas pada canting juga lebih stabil karena dilengkapi tombol pengatur. Hal ini menghilangkan risiko kepanasan yang sering dialami perajin pada metode tradisional.
Menurut Achdiani, dari sisi ekonomi pun paguyuban merasakan penghematan dari segi waktu dan biaya operasional.
"Lebih hemat karena penggunaan lilin malam tidak mudah tumpah, sehingga lebih efisiem. Hemat waktu juga karena tidak perlu membereskan tetesan seperti kalau pakai canting manual," imbuhnya.
Manfaat dari segi kenyamanan tidak hanya dirasakan oleh para perajin, tetapi juga para siswa sekolah yang mengikuti pelatihan membatik. Paguyuban tersebut kerap menggelar produk dan pelatihan di area Keraton Kasepuhan Cirebon setiap akhir pekan.
Achdiani mengatakan terkadang anak-anak kurang berhati-hati, sehingga lilin malam kerapkali tumpah ke kain. Ia bercerita, beberapa waktu lalu paguyuban menggelar pelatihan membatik bersama para siswa berkebutuhan khusus
"Dengan canting listrik, posisi malam tetap stabil. Asap pun tidak ada jadi hanya terasa hangat di canting. Hal ini sangat membantu terutama saat kami membuat lokakarya untuk anak berkebutuhan khusus. Biasanya mereka ketakutan jika melihat api, tetapi dengan canting listrik malah enjoy dan jadi bisa membuat motif yang cantik di kain tanpa kekhawatiran," jelasnya.
Dampak positif lain yang dirasakan paguyuban adalah meningkatkan daya tarik wisata. Achdiani mengisahkan ada wisatawan dari Jepang yang senang karena merasa membatik itu tidak rumit.
"Biasanya mereka lihat di sentra batik lain itu menggunakan kompor dan api. Dengan adanya canting listrik ini tetap terlihat bersih dan bernilai bagus hasilnya," tambahnya.
Bagi Achdiani, pengalaman tersebut dapat menjadi salah satu cara untu melestarikan budaya sekaligus meningkatkan ekonomi lokal.
“Wisatawan Jepang dan Malaysia itu datang membatik di paguyuban dan lokasi belajar membatiknya di keraton kasepuhan. Jadi sambil membatik, mereka juga bisa sekalian eksplorasi keraton,” ujarnya.
Meskipun sudah memanfaatkan canting elektronik, Achdiani melihat masih ada potensi inovasi yang dapat dikembangkan lebih lanjut, yakni dalam proses pewarnaan batik yang saat ini masih manual.
"Canting ini kan untuk menggambar di kain. Untuk pewarnaan sekarang masih manual pakai kompor biasa. Belum bisa pakai kompor listrik karena ukurannya kecil, padahal kami butuh pakai wadah yang lebih besar. Jadi ada potensinya untuk dikembangkan. Mungkin nanti ada alat pewarnaan supaya lebih efektif juga. Siapa tahu ada investor yang mau membuatkan," harap Achdiani
Achdiani mengaku selama ini dukungan dari berbagai pihak kerap menghampiri. Salah satunya adalah pemerintah daerah berupa peningkatan ilmu dan keterampilan.
Bahkan keberhasilan inovasi dalam cara membatik tersebut merupakan buah dari sinergi. Achdiani memaparkan, ide tersebut sebelumnya dituangkan dalam bentuk proposal.
“Setelah memiliki ide untuk membuat canting elektronik, kami mengajukan proposal kepada pihak PLN dan Alhamdulillah didukung. Akhirnya kami dibantu untuk beli kompor listrik, termasuk canting listrik juga hibah dari PLN. Jadi kami merasa beruntung bisa melestarikan budaya sekaligus membatik dengan efektif," ungkapnya.
Dalam kesempatan terpisah, Manajer Komunikasi PLN Unit Induk Distribusi (UID) Jabar Nurmalitasari menyatakan bahwa PLN telah membantu beberapa UMKM di Cirebon, salah satunya membatik yang beralih dari canting api ke canting listrik.
“Tentu dukungan ini selaras dengan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Seluruh program PLN itu ingin transisi energi menuju energi bersih. Selain canting listrik, kami juga programkan electrifying agriculture di mana kami membantu masyarakat atau kelompok tani beralih dari peralatan berbasis solar atau diesel ke mesin dengan listrik,” tuturnya.
Nurmalitasari menambahkan, hal tersebut dilakukan dalam upaya pemerataan akses listrik dan transisi energi bersih. Selain itu juga memastikan program-program TJSL sejalan dengan agenda energi berkelanjutan sembari mendukung kebijakan energi daerah.
Secara garis besar, kata Nurmalitasari, usaha memastikan peralihan teknologi berjalan berkelanjutan ini pun didukung penuh oleh kesiapan sistem kelistrikan di Jawa Barat.
"Dari sisi pasokan, kapasitas total kami ada di 14.844 MW dengan beban puncaknya masih di 8.985 MW, sehingga masih ada cadangan 5.859 MW atau setara dengan 39,47 persen. Cadangan ini sangat cukup untuk menyuplai masyarakat, bahkan dengan peningkatan jumlah pelanggan rumah tangga maupun industri yang terus meningkat di Jabar,” paparnya.
Editor: Redaktur TVRINews
