Penulis: Ridho Dwi Putranto
TVRINews, Jakarta
Budaya dinilai mampu menjadi mesin pertumbuhan ekonomi sekaligus pemersatu bangsa di tengah tantangan global.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan bahwa kebudayaan memiliki peran strategis sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi nasional yang inklusif dan berkelanjutan.
Hal tersebut disampaikannya dalam diskusi budaya bertema “Pembangunan Ekonomi Berbasis Seni dan Pelestarian Budaya” pada rangkaian acara Starting Year Forum 2026.
Dalam sesi keempat forum hasil kolaborasi Infobank Media Group, Marketing Research Indonesia, Bank Indonesia, dan CFO Club tersebut, Fadli Zon menyampaikan pidato kebudayaan berjudul “Kekayaan Budaya sebagai Penopang Ekonomi Inklusif dan Berkelanjutan.”
Budaya sebagai Mesin Pertumbuhan Ekonomi
Menbud menyampaikan bahwa banyak negara maju telah menjadikan kebudayaan sebagai engine of growth melalui pengembangan cultural economy and industry atau cultural and creative industry (CCI).
“Budaya kini menjadi bagian dari industri modern dan kekuatan lunak suatu bangsa,” ujar Menbud Fadli dalam keterangan tertulis, Jumat, 23 Januari 2026.
Ia mencontohkan peningkatan signifikan jumlah dan kualitas museum di Indonesia. Museum Nasional Indonesia, menurutnya, mengalami lonjakan pengunjung hingga ratusan persen dan memberikan dampak ekonomi nyata melalui penjualan tiket, pameran, hingga pengembangan produk turunan seperti merchandise dan kuliner.
Indonesia Miliki Kekayaan Budaya Dunia
Menbud menjelaskan, kebudayaan nasional mencakup sepuluh objek pemajuan kebudayaan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017, mulai dari bahasa, manuskrip, ritus, adat istiadat, hingga seni, film, sastra, dan budaya digital.
Dengan lebih dari 1.300 kelompok etnik dan 718 bahasa daerah, Fadli Zon menilai Indonesia sebagai salah satu peradaban tertua di dunia.
Ia juga menyoroti pengakuan dunia terhadap budaya Indonesia setelah jurnal sains internasional *Nature* menerbitkan penelitian yang menyatakan lukisan figuratif tertua di dunia ditemukan di Indonesia.
“Ini pengakuan global atas ekspresi budaya kita. Kekayaan ini harus dilindungi, dikembangkan, dan dimanfaatkan. Pemanfaatan inilah yang belum maksimal kita lakukan,” tegasnya.
Budaya Tak Pernah Habis
Fadli Zon menekankan bahwa sumber daya alam bersifat terbatas, sementara budaya tidak akan pernah habis.
“Batu bara, nikel, minyak, dan gas akan habis. Tapi budaya tidak. Karena itu negara-negara maju kini bertumpu pada industri budaya dan kreatif,” katanya.
Ia pun mengajak dunia usaha dan sektor swasta untuk terlibat aktif melalui kerja sama filantropi, board of trustees museum, dan pelestarian cagar budaya, sebagaimana praktik di berbagai negara.
Budaya sebagai Pemersatu Bangsa
Selain sebagai penggerak ekonomi, Fadli Zon menegaskan kebudayaan merupakan kekuatan jati diri dan pemersatu bangsa.
“Budaya adalah *binding power* bangsa Indonesia,” ujarnya.
Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat mendukung pemajuan kebudayaan nasional, seiring berdirinya Kementerian Kebudayaan oleh Presiden Prabowo Subianto sebagai bentuk komitmen negara dalam memajukan budaya Indonesia di kancah global.
Pandangan Dunia Usaha
Sementara itu, Chairman Infobank Media Group Eko B. Supriyanto menyampaikan bahwa transformasi digital mendorong industri perbankan untuk semakin responsif terhadap kebutuhan nasabah.
“Di tengah persaingan yang makin ketat, pendekatan customer-centric menjadi fondasi utama dalam membangun hubungan yang bermakna dengan pelanggan,” jelasnya.
Editor: Redaktur TVRINews
