
Beberapa CCTV Pemantau Semeru Sempat Mati, Badan Geologi Perkuat Tim Lapangan
Penulis: Krisafika Taraisya Subagio
TVRINews, Jakarta
Sejumlah alat pemantau aktivitas Gunung Semeru, termasuk beberapa kamera CCTV, sempat mengalami gangguan saat rangkaian awan panas dan erupsi terjadi pada Rabu (19/11). Kondisi ini membuat tim Badan Geologi harus melakukan evaluasi manual di lapangan untuk memastikan data aktivitas gunung tetap akurat dan dapat menjadi dasar rekomendasi mitigasi.
Penyelidik Bumi Ahli Utama Pusat Survei Geologi, Kristianto, mengungkapkan bahwa pergerakan awan panas yang mencapai lebih dari 13 kilometer membuat beberapa kamera pemantau tidak dapat merekam kondisi puncak gunung secara penuh.
"Beberapa CCTV sempat mati, sehingga pemantauan visual dari beberapa titik sempat terputus. Selain itu, kabut tebal juga menghambat pandangan," kata Kristianto dalam konferensi pers kondisi terkini Gunung Semeru yang disiarkan secara langsung melalui YouTube, pada Kamis 20 November 2025.
Meski begitu, data instrumental lainnya seperti seismik, tiltmeter, dan GPS masih berfungsi sehingga analisis aktivitas gunung tetap dapat dilakukan. Tim di pusat dan pos pengamatan kemudian menyesuaikan pemantauan dengan menggabungkan data lapangan, catatan seismicity, serta laporan visual terakhir yang terekam.
Kepala Badan Geologi, M. Wafid, menegaskan bahwa gangguan beberapa alat tidak menghentikan proses pemantauan.
"Kami melakukan evaluasi aktivitas setiap enam jam. Jika ada instrumen yang terganggu, tim lapangan langsung kami minta mengecek dan memperbaikinya," ujar Wafid.
Untuk memastikan seluruh perangkat kembali berfungsi optimal, Badan Geologi telah menurunkan tim ahli tambahan dari Pos Pengamatan Gunung Ijen dan Bromo.
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Priatin Hadi Wijaya, menyebut tim pendukung ini bergabung untuk memeriksa kondisi alat sekaligus memperkuat pemantauan di sektor-sektor rawan.
"Kami sudah meminta tim ahli melakukan pengecekan satu per satu instrumen, termasuk CCTV yang sempat mati, apakah karena tertutup material, terganggu teknis, atau perlu penggantian," ucap Hadi.
Gangguan pada sebagian CCTV membuat analisis visual erupsi kemarin harus mengandalkan kombinasi data jarak jauh dan laporan lapangan. Dari pemantauan yang berhasil dikumpulkan, awan panas diperkirakan mencapai jarak hingga 15,5 km ke arah Besuk Kobokan, lebih jauh daripada kejadian tahun 2021.
Dengan Semeru masih berada di Level IV (Awas), Badan Geologi mengimbau masyarakat untuk tidak mendekati zona bahaya dan selalu mengikuti informasi resmi.
Sebelumnya, peningkatan status ke Level IV ('Awas') ditetapkan oleh Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada hari Rabu (19/11), pukul 17.00 WIB, berselang satu jam setelah statusnya naik dari 'Waspada' (Level II) ke 'Siaga' (Level III).
Gunung Semeru dilaporkan mengalami erupsi pada pukul 16.00 WIB dengan tinggi kolom letusan mencapai sekitar 2.000 meter di atas puncak. Dalam peristiwa ini, Semeru mengembuskan awan panas guguran dengan jarak luncur mencapai tujuh kilometer dari puncak ke arah utara dan barat laut. Aktivitas seismogram Pos Pemantauan Gunung Api Badan Geologi di Lumajang mencatat erupsi ini berakhir pada rabu (19/11) pukul 18.11 WIB.
Editor: Redaksi TVRINews
