
Suasana Jelang Perayaan Harlah 1 Abad NU di Istora Senayan Jakarta, Sabtu 31 Januari 2026 (Foto: Youtube TV PBNU)
Penulis: Fityan
TVRINews - Jakarta
PBNU Tegaskan Komitmen Kebangsaan dan Spirit Peradaban Mulia di Istora
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) secara resmi memperingati Hari Lahir (Harlah) ke-100 tahun versi kalender Masehi dengan menekankan pesan mendalam mengenai kebersamaan berjamaah dan persatuan nasional.
Perayaan yang berpusat di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta pada Sabtu 31 Januari 2026 ini, menjadi tonggak sejarah satu abad perjalanan organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut.
Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf, sebelumnya pada laman resmi PB NU menyatakan bahwa momentum satu abad ini merupakan ruang krusial untuk mengonsolidasikan seluruh elemen organisasi.
Menurutnya, kekompakan internal menjadi fondasi utama dalam menghadapi tantangan bangsa yang kian kompleks.
"Alhamdulillah, seluruh persiapan sudah lengkap. Akan hadir dan terlibat seluruh jajaran PBNU sebagai partisipan," ujar sosok yang akrab disapa Gus Yahya tersebut di sela-sela acara.
Rekonsiliasi Internal dan Empati Nasional
Gus Yahya menjelaskan bahwa semangat kebersamaan yang diusung bukan sekadar slogan. Ia menyebut dinamika internal organisasi yang sempat menghangat kini telah berakhir dengan suasana damai.
Momentum Harlah ini menjadi simbol berakhirnya perbedaan pendapat demi tujuan yang lebih besar.
Selain aspek internal, PBNU juga memberikan perhatian khusus pada situasi nasional. Pesan solidaritas kebangsaan diperkuat sebagai bentuk empati terhadap masyarakat yang terdampak rentetan bencana alam di berbagai wilayah Indonesia sejak akhir November 2025 lalu.
Acara ini rencannya akan dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, termasuk undangan resmi untuk Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, jajaran menteri Kabinet Merah Putih, pimpinan lembaga negara, hingga perwakilan diplomatik negara-negara sahabat.
Visi Menuju Peradaban Mulia
Ketua Panitia Harlah 100 Tahun NU, Gus Aizuddin Abdurrahman, mengungkapkan bahwa antusiasme warga Nahdliyin sangat tinggi.
Dengan kapasitas Istora yang terbatas, panitia memperkirakan kehadiran massa mencapai 8.000 hingga 10.000 orang, sehingga sejumlah fasilitas pendukung disiapkan di luar area utama.
"Ini momentum satu abad yang hanya terjadi sekali, dan kita semua merasa bersemangat bisa menjadi bagian di dalamnya," kata Gus Aizuddin.
Ia menambahkan bahwa tema yang diusung, yakni "Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Mulia", merupakan visi jangka panjang organisasi.
"Ini bukan tema jangka pendek, melainkan perjuangan panjang yang akan terus dijaga dan ditempuh demi terwujudnya peradaban mulia bagi generasi mendatang," tuturnya menutup keterangan.
Peringatan satu abad ini tidak hanya terpusat di Jakarta. Secara serentak, pengurus NU di tingkat wilayah, cabang, hingga ranting di seluruh penjuru tanah air turut menggelar rangkaian kegiatan syukur sebagai bentuk khidmah kepada bangsa dan negara.
Editor: Redaksi TVRINews
