
dok. Kemenag
Penulis: Lidya Thalia.S
TVRINews, Jakarta
Kementerian Agama mencatat capaian positif dalam pelaksanaan Program Pengiriman Dai ke wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) serta perbatasan sepanjang Ramadan 2026. Program ini dinilai berhasil memperluas layanan keagamaan sekaligus mendorong pemberdayaan masyarakat di berbagai daerah.
Sebanyak 2.199 dai dan daiyah diterjunkan ke 38 provinsi untuk menjalankan berbagai aktivitas dakwah dan pembinaan keagamaan. Direktur Penerangan Agama Islam, Muchlis M. Hanafi, menyebut Ramadan menjadi momentum penting dalam mengoptimalkan peran dai di tengah masyarakat.
“Selama Ramadan, aktivitas Dai 3T meningkat signifikan, mulai dari pembinaan ibadah, pengajaran Al-Qur’an, hingga penguatan kehidupan keagamaan masyarakat. Ini menunjukkan kehadiran dai benar-benar dirasakan manfaatnya oleh umat,” ujar Muchlis, Sabtu, 18 April 2026.
Pelaksanaan program ini melibatkan sejumlah mitra strategis, termasuk Lembaga Amil Zakat Nasional (LAZNAS) dan pondok pesantren. Kolaborasi tersebut turut mendukung kegiatan sosial seperti penyaluran zakat, infak, dan sedekah (ZIS) kepada masyarakat.
Di bidang pendidikan Al-Qur’an, program ini berhasil menjangkau 238.577 anak dan 128.505 remaja melalui pembinaan tahsin. Selain itu, sebanyak 145.134 ibu juga mengikuti kegiatan serupa. Tingginya partisipasi ini mencerminkan antusiasme masyarakat dalam meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an, khususnya selama Ramadan.
Kegiatan para dai didukung oleh 27.738 majelis taklim dan 17.214 Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ/TPA). Sepanjang Ramadan, tercatat 69.636 kegiatan keagamaan seperti kultum, tadarus, dan pengajian, dengan total jamaah mencapai 600.055 orang.
Tak hanya itu, layanan konsultasi keagamaan juga menjangkau 58.403 orang. Aktivitas dakwah dilaksanakan di 33.476 masjid dan 13.735 mushalla di berbagai wilayah.
Program ini juga memberikan dampak pada pemberdayaan masyarakat. Sebanyak 94.450 remaja mengikuti pelatihan, sementara 22.798 persoalan sosial-keagamaan berhasil dimediasi oleh para dai.
Muchlis menegaskan, peran dai tidak hanya terbatas pada pembinaan ibadah, tetapi juga mencakup aspek sosial dan ekonomi. Para dai turut terlibat dalam pendampingan UMKM, penguatan ekonomi umat, pelatihan pemulasaran jenazah, hingga aksi kemanusiaan bagi masyarakat terdampak bencana.
Selain itu, mereka juga memberikan bimbingan baca tulis Al-Qur’an, pembinaan mualaf, serta pelatihan pengelolaan ZIS. Pembinaan generasi muda diperkuat melalui pesantren kilat, pelatihan keterampilan, dan program pengembangan desa.
Program Dai 3T menjadi langkah strategis Kementerian Agama dalam menghadirkan layanan keagamaan yang inklusif dan merata, sekaligus memberikan dampak nyata bagi masyarakat, terutama selama bulan Ramadan.
Editor: Redaktur TVRINews
