
Foto: Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar (dok. Kemenag)
Penulis: Ridho Dwi Putranto
TVRINews, Jakarta
Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar membuka Sidang Kelulusan Ujian Masuk Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (UM-PTKIN) Tahun 2025. Dalam sambutannya, Menag menekankan pentingnya seleksi ini dalam menentukan kualitas pendidikan Islam dan masa depan sumber daya manusia Indonesia.
“Tentu kita harus mendukung kegiatan ini karena akan menentukan nasib masa depan umat, anak-anak bangsa, dan alumni lembaga pendidikan agama kita,” ujar Menag dalam keterangan tertulis, Kamis, 26 Juni 2025.
Menurut Nasaruddin, kualitas peserta didik sangat menentukan kualitas lulusan (output) dan dampak jangka panjang (outcome) dari lembaga pendidikan keagamaan.
Baca Juga: Kemlu: 60 WNI Dievakuasi dari Iran Telah Tiba di Tanah Air
“Kalau input-nya bagus, maka akan melahirkan output yang kompetitif, dan output yang bagus akan menghasilkan outcome yang juga baik,” jelasnya.
Ia menambahkan, proses seleksi UM-PTKIN merupakan bagian dari ikhtiar mencetak sumber daya manusia unggul di lingkungan Kementerian Agama.
Dalam pidatonya, Menag juga mengutip pengalaman pribadinya saat menghadiri reuni Madrasah Aliyah Program Khusus (MAPK) yang dianggap sukses mencetak generasi reformis.
“MAPK yang dibentuk oleh Almarhum Bapak Munawir Sjadzali luar biasa. Banyak alumni-nya kini menjadi tokoh-tokoh di UIN Jakarta, Yogyakarta, dan perguruan tinggi lainnya,” katanya.
Menag kemudian mengutip Al-Qur’an surat Al-Qashash ayat 26 sebagai pedoman memilih sosok pemimpin yang kuat dan terpercaya: *Inna khaira manista’jarta al-qawiyyul-amin*.
“Al-qawiyy berarti tangguh, kokoh, kuat. Al-amin berasal dari kata aman, yang artinya amanah dan iman. Orang yang memiliki iman, akan merasa aman dan menjadi pribadi yang dapat dipercaya,” terangnya.
Ia menekankan bahwa yang perlu dipromosikan di masa depan bukan hanya orang yang pintar, tetapi mereka yang memiliki integritas dan tanggung jawab—figur yang kuat secara profesional dan amanah secara spiritual.
“Yang paling bagus dipromosikan adalah al-qawiyyul amin—bukan sekadar pintar, tetapi punya Emotional Spiritual Quotient (ESQ),” tegasnya.
Menag juga menyatakan bahwa karakter al-qawiyyul amin bisa dimiliki oleh siapa saja, termasuk perempuan dan penyandang disabilitas.
“Fisiknya bisa laki-laki atau perempuan, bisa difabel. Tapi jika tekadnya kuat dan bisa dipercaya, dia adalah al-qawiyyul amin,” katanya.
Editor: Redaktur TVRINews
