
dok. Kemendikdasmen
Penulis: Lidya Thalia.S
TVRINews, Banten
Program Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) jenjang pendidikan menengah yang diluncurkan pemerintah membawa harapan baru dalam menekan angka anak tidak sekolah (ATS) di berbagai daerah. Sejumlah sekolah induk dan mitra menyatakan kesiapan mereka dalam mendukung implementasi program tersebut.
Kepala Tata Usaha Sekolah Indonesia Kota Kinabalu, Sukma Sabdani, mengungkapkan bahwa PJJ telah terbukti membantu meningkatkan akses pendidikan bagi anak-anak Indonesia di Sabah, Malaysia.
Program ini dinilai efektif menjangkau murid yang sebelumnya sulit mengakses pendidikan formal.
“Dari sekitar 1.700 lulusan SMP setiap tahun, PJJ mampu menampung lebih dari separuh murid yang sebelumnya tidak terakomodasi. Ini menjadi solusi bagi mereka yang tinggal di wilayah terpencil, termasuk di kawasan perkebunan yang jauh dari pusat kota,”ujar Sukma dalam keterangan tertulis, Minggu, 26 April 2026.
Ia menambahkan, fleksibilitas PJJ memungkinkan murid tetap belajar sambil menjalankan aktivitas sehari-hari, termasuk membantu orang tua bekerja. Ke depan, cakupan program ini diharapkan terus diperluas agar menjangkau lebih banyak peserta didik, termasuk mereka yang sudah bekerja namun belum menyelesaikan pendidikan.
Hal serupa disampaikan Kepala SMAN 1 Ternate, Sabaria Umahuk. Ia menyebut sekolahnya telah melakukan berbagai persiapan sebagai sekolah induk yang akan berkolaborasi dengan sejumlah sekolah mitra di Maluku Utara.
Menurutnya, kolaborasi tersebut penting untuk memperluas layanan pendidikan, terutama bagi anak-anak yang belum mendapatkan akses pendidikan formal.
“Program ini menjadi peluang besar untuk menjangkau anak-anak yang selama ini belum terlayani. Dengan dukungan pemerintah daerah, kami optimistis dapat memberikan layanan pendidikan yang maksimal,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala SMAN 2 Padalarang, Kicky Eceu Wardani, juga menyatakan kesiapan penuh dalam mendukung PJJ. Ia menilai pengalaman sekolahnya dalam menyelenggarakan SMA Terbuka menjadi modal penting dalam pelaksanaan program ini.
“PJJ sangat membantu murid yang tidak bisa mengikuti pembelajaran tatap muka. Fokusnya juga untuk mengajak kembali anak-anak yang sempat putus sekolah agar bisa melanjutkan pendidikan,”ungkap Kicky.
Menanggapi hal tersebut, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti menekankan pentingnya integrasi PJJ dengan konsep pembelajaran mendalam. Menurutnya, proses belajar tidak hanya berfokus pada transfer pengetahuan, tetapi juga pada pengembangan aspek kognitif, mental, dan karakter.
“Sekolah induk dan mitra memiliki peran penting, tidak hanya menekan angka ATS, tetapi juga membentuk karakter dan kompetensi peserta didik,”kata Mu’ti.
Sebagai bagian dari implementasi, satuan pendidikan juga memanfaatkan platform digital Rumah Pendidikan untuk mendukung proses belajar. Melalui platform ini, guru dan murid dapat mengakses materi pembelajaran secara fleksibel serta memperluas interaksi pembelajaran jarak jauh.
Program PJJ jenjang pendidikan menengah ditujukan bagi anak tidak sekolah usia 16 hingga 18 tahun. Melalui program ini, pemerintah berharap semakin banyak anak Indonesia yang kembali mendapatkan akses pendidikan yang inklusif, merata, dan berkualitas.
Editor: Redaktur TVRINews
