
Penulis: Nirmala Hanifah
TVRINews, Jakarta
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) terus berkomitmen dalam memperkuat ekosistem riset perguruan tinggi agar memberikan dampak nyata bagi masyarakat serta meningkatkan daya saing nasional. Hal tersebut, diungkapkan oleh Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto.
Tak hanya itu, ia juga menekankan bahwa penguatan ekosistem riset tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan membutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan.
“Perbaikan ekosistem riset tidak dapat dilakukan dari pusat saja. Ini harus dibangun bersama oleh seluruh simpul ekosistem, mulai dari perguruan tinggi, LLDIKTI, industri, pemerintah daerah, hingga mitra strategis lainnya,” ujar Brian Yuliarto kutip Kamis, 1 Januari 2026
Ia juga menegaskan, arah kebijakan pembangunan pendidikan tinggi, sains, dan teknologi melalui konsep Diktisaintek Berdampak.
Ia menyebut, riset nasional harus memiliki kualitas akademik yang kuat sekaligus relevan dengan kebutuhan pembangunan.
“Riset kita harus kuat dan berkelas dunia. Kita tidak perlu ragu bersaing dengan negara lain. Dengan kolaborasi yang solid, capaian ilmiah berkualitas tinggi dapat terus ditingkatkan dan diwariskan kepada lebih banyak peneliti,” katanya.
Selain itu, Ia menekankan pentingnya kesinambungan riset hingga tahap hilirisasi. Menurutnya, riset dasar dan pemanfaatan hasil riset harus berjalan seiring untuk menciptakan nilai tambah.
Dikesempatan yang sama, Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan, Fauzan Adziman, dalam kesempatan yang sama memaparkan capaian program riset tahun 2025 serta rencana kebijakan dan implementasi program tahun 2026.
“Ditjen Risbang memfokuskan penelitian pada penyelesaian tantangan nasional. Tahun 2026, kami akan menjalankan Program Riset Prioritas yang didanai APBN serta Program Riset Strategis bersama LPDP,” ujar Fauzan.
Untuk mendukung pelaksanaan program yang lebih optimal, Ditjen Risbang juga menyiapkan strategi percepatan melalui pembukaan penerimaan proposal lebih awal.
“Call for proposal sudah dibuka sejak Oktober 2025. Dengan begitu, riset dapat dimulai lebih cepat dan waktu pelaksanaan menjadi lebih efektif,” tambahnya.
Editor: Redaktur TVRINews
