Penulis: Lidya Thalia.S
TVRINews, Jakarta
Kementerian Lingkungan Hidup dan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup terus mendorong penguatan pengelolaan sampah berbasis masyarakat, salah satunya melalui kegiatan studi tiru yang diikuti perwakilan dari Pemerintah Kota Banjarmasin dan Kota Banjarbaru.
Kegiatan ini menjadi sarana belajar bagi para peserta yang terdiri dari camat, lurah, serta perangkat daerah untuk melihat secara langsung praktik pengelolaan sampah di wilayah perkotaan yang telah berjalan. Diharapkan, pengalaman tersebut dapat diterapkan di daerah masing-masing.
Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH Hanif Faisol Nurofiq menegaskan bahwa pemerintah daerah memiliki peran penting dalam menyelesaikan persoalan sampah. Ia juga mengapresiasi kehadiran para peserta sebagai bentuk keseriusan daerah dalam mendorong perbaikan pengelolaan lingkungan.
“Kehadiran Bapak-Ibu sekalian kita maknai sebagai upaya serius untuk membuka wawasan dan melihat langsung bagaimana pengelolaan sampah dilakukan di daerah lain. Ini bukan kunjungan biasa, tetapi langkah nyata untuk mempercepat penyelesaian persoalan sampah di daerah masing-masing,”ujar Hanif dalam keterangan tertulis, Sabtu, 4 April 2026.
Menurutnya, camat dan lurah memiliki posisi strategis sebagai garda terdepan dalam mendorong perubahan perilaku masyarakat, terutama dalam hal pengelolaan sampah dari sumbernya.
Sebagai bagian dari kegiatan studi tiru, para peserta dijadwalkan mengunjungi Kelurahan Rorotan yang dikenal sebagai salah satu lokasi percontohan pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Wilayah ini dinilai berhasil menunjukkan perubahan signifikan, dari kondisi awal pengelolaan sampah yang belum optimal hingga kini masyarakat mulai terbiasa memilah sampah dari rumah tangga.
Hanif menjelaskan bahwa perubahan perilaku masyarakat tidak terjadi secara instan, melainkan melalui proses pendampingan yang berkelanjutan serta kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat.
“Fasilitas sudah dibangun, namun tidak akan optimal jika sampah masih bercampur. Artinya, persoalan utama ada pada budaya dan kebiasaan kita dalam mengelola sampah,” tegasnya.
Karena itu, ia menekankan bahwa keberhasilan pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada fasilitas atau teknologi, tetapi sangat ditentukan oleh kesadaran dan partisipasi masyarakat. Peran pemerintah daerah menjadi kunci dalam membangun kebiasaan memilah sampah dari sumbernya.
Melalui kegiatan studi tiru ini, KLH/BPLH berharap terjadi pertukaran praktik baik antar daerah sekaligus memperkuat kolaborasi dalam mewujudkan pengelolaan lingkungan hidup yang lebih berkelanjutan.
Editor: Redaktur TVRINews
