
Sebanyak 300 warga mengungsi di pos pengungsian yang tersebar di 2 titik yakni di Balai Desa Oro-Oro Ombo dan SD 2 Supiturang, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur ( Foto :BPBD Kabupaten Lumajang.)
Penulis: Fityan
TVRINews – Lumajang,Jawa Tengah
Status 'Awas' Ditetapkan, Ratusan Warga Dievakuasi dari Zona Bahaya Erupsi Semeru
Tim gabungan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) bersama otoritas terkait mengintensifkan operasi evakuasi ratusan warga di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, menyusul peningkatan status aktivitas Gunung Semeru ke Level IV atau 'Awas'.
Langkah ini diambil sebagai respons cepat untuk mengantisipasi potensi bahaya dari letusan susulan dan aliran lahar dingin.

(BNPB Pantau Dampak Kenaikan Status Aktivitas Vulkanik Gunung Semeru (Foto : BNPB))
Basarnas telah mengerahkan personel tambahan untuk memperkuat upaya pemindahan penduduk dari wilayah yang masuk dalam radius bahaya paparan material vulkanik Semeru.
"Kami sudah memberangkatkan personel dari Pos SAR Jember untuk membantu evakuasi warga karena ada juga sebagian warga yang sudah melaksanakan evakuasi mandiri," ujar Deputi Operasi dan Kesiapsiagaan Basarnas, Edy Prakoso, dalam keterangannya yang dikutip kamis (20/11).
Operasi evakuasi gabungan ini melibatkan personel dari Basarnas Pos SAR Jember, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta unsur TNI dan Polri.
Tim dibagi ke sejumlah lokasi terdampak untuk menjamin proses evakuasi berjalan tertib dan aman, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan penduduk yang bermukim di dekat aliran sungai yang berhulu di Semeru.
Ratusan Jiwa Mengungsi, Pemerintah Tetapkan Status Darurat
Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BNPB melaporkan, hingga malam ini, setidaknya 300 warga dari tiga desa di dua kecamatan telah diamankan ke lokasi pengungsian sementara.
Desa-desa terdampak tersebut meliputi Desa Supit Urang dan Desa Oro-Oro Ombo di Kecamatan Pronojiwo, serta Desa Penanggal di Kecamatan Candipuro.
Tempat-tempat penampungan yang disiapkan petugas gabungan antara lain Balai Desa Oro-oro Ombo, Balai Desa Penanggal, dan gedung SD 2 Supiturang di Kecamatan Pronojiwo, Lumajang.
Selain fokus pada evakuasi, Basarnas juga menyiagakan personel untuk memantau aliran sungai. Hal ini krusial dilakukan untuk memitigasi risiko banjir lahar dingin, mengingat material vulkanik dapat terbawa hingga ke permukiman dan jalur akses utama jika terjadi curah hujan tinggi di lereng gunung.
"Malam ini (Rabu, 19/11 malam) tim juga melaksanakan pemantauan antisipasi bila terjadi hujan yang bisa mengakibatkan banjir lahar dingin," kata Edy Prakoso.
Ia memastikan Basarnas, bersama kementerian/lembaga teknis terkait, pemerintah daerah, dan relawan, terus memonitor perkembangan situasi untuk menjamin jalur evakuasi dan lokasi pengungsian tetap aman.
Pemerintah Kabupaten Lumajang sendiri telah menetapkan status tanggap darurat selama tujuh hari, terhitung sejak 19 hingga 26 November 2025, dan mengambil langkah tegas dengan menghentikan sementara seluruh aktivitas pertambangan di wilayah terdampak.
Hal tersebut disampaikan Bupati Lumajang yang telah berkoordinasi dengan Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Lumajang dan aparat gabungan untuk memastikan pelaksanaan penutupan ini berjalan efektif.
"Instruksi tegas juga sudah disampaikan agar tidak ada aktivitas tambang yang tetap berlangsung selama status rawan masih diberlakukan," jelas Bupati Lumajang.
Peringatan 'Awas' dan Rekomendasi Jarak Aman
Sebelumnya Peningkatan status ke Level IV ('Awas') ditetapkan oleh Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada hari Rabu (19/11), pukul 17.00 WIB, berselang satu jam setelah statusnya naik dari 'Waspada' (Level II) ke 'Siaga' (Level III).

(Erupsi Gunung Semeru)
Gunung Semeru dilaporkan mengalami erupsi pada pukul 16.00 WIB dengan tinggi kolom letusan mencapai sekitar 2.000 meter di atas puncak. Dalam peristiwa ini, Semeru mengembuskan awan panas guguran dengan jarak luncur mencapai tujuh kilometer dari puncak ke arah utara dan barat laut. Aktivitas seismogram Pos Pemantauan Gunung Api Badan Geologi di Lumajang mencatat erupsi ini berakhir pada rabu (19/11) pukul 18.11 WIB.
Kepala BNPB, Letjen TNI Dr. Suharyanto yang dikutip pada laman resmi BNPB, memerintahkan jajaran untuk merespons cepat perkembangan situasi ini, khususnya terkait dampak korban, kerusakan, dan kebutuhan pengungsian.
PVMBG merekomendasikan masyarakat untuk:
• Tidak melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara, sepanjang Besuk Kobokan, sejauh 20 km dari puncak.
• Tidak beraktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan karena ancaman perluasan awan panas dan aliran lahar.
• Tidak beraktivitas dalam radius 8 km dari kawah atau puncak Gunung Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu pijar.
• Mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak Semeru.
Otoritas berwenang menegaskan pentingnya kepatuhan terhadap rekomendasi ini demi keselamatan warga mengingat potensi aktivitas vulkanik lanjutan.
Editor: Redaksi TVRINews
