
Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin. (Foto: TVRINews/Ridho Dwi Putranto)
Penulis: Ridho Dwi Putranto
TVRINews, Jakarta
Kementerian Kesehatan menegaskan perlunya percepatan pemenuhan dokter spesialis di Indonesia untuk menutup kekurangan tenaga medis yang masih cukup besar.
Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin mengatakan saat ini Indonesia masih kekurangan sekitar 60 ribu dokter spesialis. Sementara produksi dokter spesialis sebelumnya hanya sekitar 2.700 orang per tahun, sehingga membutuhkan waktu sangat lama untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
“Jadi bayangkan kalau kita produksinya sekitar 2.700 per tahun, sementara kebutuhannya sampai 10 ribuan, itu kan 20 tahun. Nah 20 tahun kita akan baru kekejar. Padahal polusi kita sudah meningkat, ujar Budi di kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta, Rabu, 25 Februari 2026.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi alasan pemerintah mempercepat program pendidikan dokter spesialis. Kebijakan ini juga merupakan arahan langsung dari Prabowo Subianto agar pemenuhan tenaga kesehatan dapat segera tercapai.
"Kalau perlu belajar di sini, kalau perlu belajar di luar juga. Dikirim ke luar negeri supaya secepat-cepatnya lebih banyak putra-putri Indonesia yang belajar," kata dia.
Selain meningkatkan jumlah dokter spesialis, pemerintah juga berupaya memperbaiki distribusi tenaga medis agar tidak terpusat di kota besar.
Program pendidikan tersebut didukung melalui pembiayaan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Pemerintah memprioritaskan peserta yang berasal dari daerah yang masih kekurangan dokter spesialis.
Budi menegaskan bahwa prioritas diberikan kepada calon dokter yang berasal dari wilayah yang benar-benar membutuhkan layanan spesialis, sehingga setelah lulus mereka dapat kembali dan melayani masyarakat di daerahnya.
“Yang diprioritaskan adalah mereka yang berasal dari daerah yang membutuhkan dokter spesialis tersebut,” katanya.
Editor: Redaktur TVRINews
