TVRINews, Jakarta
Dokumentasi internal mengungkap transformasi kebijakan dan latar belakang lahirnya program-program prioritas pemerintah.
Sebuah buku baru yang mendokumentasikan cetak biru kebijakan Presiden RI Prabowo Subianto resmi diluncurkan di Jakarta, Selasa, 9 Juni 2026. Karya berjudul "Presiden Solusi" tersebut merangkum sedikitnya 108 langkah taktis dan transformasi yang diambil kepala negara selama 18 bulan pertama masa jabatannya.
Ditulis oleh jajaran inti tim komunikasi kepresidenan - Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Muhammad Qodari, serta dua Asisten Khusus Presiden, Dirgayuza Setiawan dan Agung Gumilar Saputra, buku ini berfungsi sebagai catatan resmi mengenai arah strategis pemerintahan saat ini.
Menurut Muhammad Qodari, penyusunan buku ini didasari oleh kebutuhan mendesak untuk merekam secara komprehensif setiap keputusan krusial yang diambil oleh Presiden Prabowo. Ia menegaskan bahwa jumlah kebijakan yang tercatat dipastikan bakal terus bertambah seiring berjalannya roda pemerintahan.

(Kepala Badan Komunikasi Pemerintah RI, Muhammad Qodari. (Foto: Bakom RI))
"Kami mencatat rekam jejak menuju transformasi bangsa dalam buku ini. Sebanyak 108 poin yang ada saat ini merupakan basis data awal," ujar Qodari dikutip Selasa 9 Juni 2026.
Ia menambahkan bahwa literatur tersebut dirancang untuk menjadi referensi utama publik dalam memetakan respons pemerintah terhadap dinamika sosial dan ekonomi masyarakat.
Menjembatani Kesenjangan Informasi
Sementara itu, Asisten Khusus Presiden Bidang Komunikasi dan Analisis Kebijakan, Dirgayuza Setiawan, mengungkapkan bahwa proyek literatur ini lahir dari refleksi mendalam atas ritme kerja harian di lingkaran dalam istana.
Dirgayuza menjelaskan, penulisan ini juga dipengaruhi oleh perspektif Ted Sorensen penulis pidato legendaris Presiden AS John F. Kennedy mengenai tanggung jawab moral para staf kepresidenan dalam mendokumentasikan momentum penting pemerintahan.
"Aparatur yang berada di lingkaran utama kepresidenan memikul tanggung jawab sejarah untuk mengabadikan setiap proses pencapaian dan keputusan yang diambil," kata Dirgayuza.
Lebih lanjut, ia menggarisbawahi adanya ruang kosong dalam pemahaman publik terkait esensi dari program-program besar pemerintah, seperti program Makan Bergizi Gratis, Koperasi Merah Putih, hingga Sekolah Rakyat. Masyarakat dinilai baru sebatas mengetahui nama program, tanpa memahami akar permasalahan yang melatarbelakanginya.
Untuk mengatasi hal tersebut, buku ini dikemas dengan pendekatan komparatif yang menyajikan analisis sebelum dan sesudah kebijakan diimplementasikan. Format visual dan narasi yang sistematis ini diharapkan mampu memberikan pemahaman yang utuh kepada masyarakat mengenai cara pemerintah menyelesaikan krisis domestik.










