
Penulis: Ricardo Julio
TVRINews, Jakarta
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menyatakan dukungan penuh terhadap pengembangan hunian terintegrasi berbasis Transit Oriented Development (TOD) di kawasan stasiun. Langkah ini merupakan bagian dari percepatan Program 3 Juta Rumah yang menjadi visi besar Presiden Prabowo Subianto.
Menko AHY menegaskan bahwa program ini dinilai strategis untuk mengurangi angka backlog perumahan sekaligus menghadirkan hunian layak dan terjangkau bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).
“Program pembangunan 3 juta rumah merupakan visi besar Presiden Prabowo Subianto untuk mengatasi housing backlog, di mana masih banyak masyarakat Indonesia yang belum memiliki rumah sendiri atau tinggal di hunian yang kurang layak,” ujar Menko AHY dalam keterangannya, Selasa 17 Maret 2026.
Ia menjelaskan bahwa pengembangan hunian vertikal berbasis TOD adalah solusi tepat bagi kawasan perkotaan dengan keterbatasan lahan dan kepadatan tinggi. Dengan pendekatan ini, hunian terintegrasi langsung dengan transportasi publik sehingga mobilitas masyarakat menjadi lebih efisien dan kawasan perkotaan lebih tertata.
“Di kota-kota besar, tantangan terbesarnya adalah keterbatasan lahan. Karena itu pendekatannya melalui hunian vertikal yang terintegrasi dengan transportasi publik agar mobilitas masyarakat lebih efisien dan kawasan perkotaan menjadi lebih tertata,” jelasnya.
Selain di Stasiun Manggarai Jakarta, pengembangan serupa juga akan dilaksanakan di Stasiun Kiaracondong Bandung, kawasan Dr. Kariadi Semarang, serta kawasan Lapangan Mendut Surabaya. PT Kereta Api Indonesia (Persero) selaku pengelola aset mendukung penuh optimalisasi lahan ini sebagai bagian dari ekosistem Danantara Indonesia.
Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, memaparkan potensi besar pemanfaatan lahan perkeretaapian untuk kawasan berbasis transportasi.
“Pemanfaatan kawasan berbasis Transit Oriented Development memungkinkan pengembangan hunian, fasilitas komersial, serta konektivitas transportasi dalam satu kawasan yang terintegrasi. Di wilayah Jabodetabek saja, kawasan di sekitar stasiun memiliki potensi pembangunan sekitar 131 ribu unit hunian yang terhubung langsung dengan jaringan transportasi publik,” ujar Bobby.
Salah satu proyek percontohan adalah Rusun MBR Manggarai yang akan dibangun di lahan seluas 2,1 hektare. Proyek yang dikerjakan oleh KAI Properti ini direncanakan setinggi 12 lantai dengan fungsi campuran, termasuk area ritel untuk mendukung ekonomi kawasan.
Pembangunan fisik Blok G dijadwalkan mulai pada Agustus 2026, disusul Blok F pada Oktober 2026. Unit hunian yang tersedia terdiri dari tipe 45 dan tipe 52 dengan target serah terima mulai Mei 2027 secara bertahap.
Menko AHY menekankan bahwa pemanfaatan aset strategis BUMN seperti lahan KAI tidak hanya memberikan solusi papan bagi masyarakat, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi nasional.
“PT KAI memiliki aset lahan yang sangat strategis di berbagai kota besar. Jika dimanfaatkan secara optimal untuk pembangunan hunian berbasis transportasi publik, langkah ini tidak hanya menghadirkan solusi perumahan tetapi juga menggerakkan roda ekonomi dan membuka lapangan pekerjaan,” tandasnya.
Editor: Redaktur TVRINews
