
Presiden Prabowo Subianto (Foto: Gerindra)
Penulis: Fityan
TVRINews – Jakarta
Jakarta dan Riyadh Serukan Gencatan Senjata Segera di Kawasan Teluk
Presiden Indonesia Prabowo Subianto melakukan pembicaraan mendalam melalui sambungan telepon dengan Putra Mahkota sekaligus Perdana Menteri Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MbS), guna membahas situasi keamanan yang kian memburuk di Timur Tengah.
Dalam keterangan resmi Kementerian Luar Negeri Arab Saudi yang dirilis pada Rabu 11 Maret 2026, kedua pemimpin menyoroti peningkatan ketegangan militer yang dinilai mengancam perdamaian regional maupun internasional.
Dialog ini terjadi di tengah kekhawatiran global akan meluasnya konflik setelah serangkaian serangan lintas batas yang melibatkan beberapa aktor utama di kawasan.
Garis Besar Diplomasi
Selama percakapan tersebut, Presiden Prabowo menegaskan posisi Indonesia yang mendorong penghentian segera seluruh aktivitas militer.
Beliau memperingatkan bahwa eskalasi yang berkelanjutan hanya akan memperburuk stabilitas dan merusak tatanan keamanan di kawasan yang sudah rapuh.
"Presiden menekankan urgensi penghentian aksi militer segera guna mencegah dampak lebih luas terhadap perdamaian dunia," tulis pernyataan resmi kementerian tersebut.
Konteks Ketegangan Regional
Ketegangan di kawasan mencapai titik kritis menyusul operasi militer besar-besaran yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari lalu.
Serangan tersebut menghantam sejumlah target strategis di Iran, termasuk ibu kota Teheran, yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dari kalangan sipil.
Situasi semakin memanas setelah media pemerintah Iran mengonfirmasi wafatnya Pemimpin Tertinggi, Ayatollah Ali Khamenei, akibat serangan tersebut.
Sebagai respons, Teheran meluncurkan gelombang rudal yang menargetkan wilayah Israel dan fasilitas militer Amerika Serikat di berbagai titik di Timur Tengah.
Pertahanan Kolektif di Teluk
Ketidakstabilan ini juga mulai merambah ke negara-negara tetangga. Pada Selasa 10 Maret 2026, otoritas Arab Saudi, Bahrain, dan Uni Emirat Arab melaporkan bahwa sistem pertahanan udara mereka telah mencegat sejumlah drone dan rudal balistik yang diluncurkan dari wilayah Iran.
Langkah diplomasi antara Jakarta dan Riyadh ini mencerminkan kekhawatiran kolektif negara-negara mayoritas Muslim terhadap potensi perang terbuka yang lebih besar, yang dapat mengganggu jalur pasokan energi dunia dan keamanan maritim internasional.
Editor: Redaktur TVRINews
