TVRINews, Jakarta.
Kepala Staf Kepresidenan, Muhammad Qodari, menyampaikan apresiasi atas penghargaan Detikcom Awards 2025 yang diberikan kepada Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya sebagai Tokoh Harmonisasi Tata Kelola Pemerintahan. Ia menilai penghargaan tersebut menegaskan pemahaman publik dan elite mengenai peran strategis Teddy dalam mendukung kelancaran koordinasi kabinet di era Presiden Prabowo Subianto.
“Awards 2025 oleh Detikcom sebagai Tokoh Harmonisasi Tata Kelola Pemerintahan memberikan perspektif yang tepat kepada publik dan kepada elite mengenai peran Pak Seskab Teddy Indra Wijaya di dalam pemerintahan,” ujar Qodari dalam keterangannya, Jumat, 28 November 2025.
Qodari menjelaskan fungsi utama Seskab Teddy dapat dianalogikan sebagai air traffic controller yang mengatur kelancaran arus isu, aktor, agenda kebijakan, dan koordinasi lintas kementerian. “Apa itu peran Teddy? Yakni sebagai air traffic controller yang mengatur lalu lintas anggota kabinet dan isu. Seperti air traffic controller yang mengontrol pergerakan pesawat yang sangat banyak dan padat. Kalau tidak ada air traffic controller, maka akan terjadi kekacauan, tabrakan,” tegasnya.
Ia menilai pandangan yang menyebut Teddy sebagai gerbang menuju presiden perlu diluruskan. “Teddy ini bukan sekadar pintu menuju presiden. Ada benarnya juga analogi sebagai penjaga pintu kepada presiden, tetapi menurut saya analogi yang lebih tepat adalah air traffic controller. Karena air traffic controller itu menggambarkan kompleksitas orang dan isu yang berada di sekitar pusat gravitasi bernama Presiden Prabowo,” ungkapnya.
Qodari menekankan pentingnya perspektif yang akurat untuk menghindari kesimpulan yang keliru. “Perspektif ini penting karena sebagian elite dan media salah baca atau salah menyimpulkan, misalnya menganggap Teddy itu menghalangi akses kepada presiden. Yang sesungguhnya terjadi adalah Teddy yang paling mengetahui situasi, kondisi serta prioritas presiden,” jelas Qodari.
“Jadi sebetulnya bukan kacamata atau kepentingan Teddy, tetapi kacamata dan kebutuhan presiden. Itu cara yang tepat dalam melihat Teddy,” tambahnya.
Menurut Qodari, tata kelola arus informasi yang padat memerlukan pengaturan yang sistematis. “Dalam konteks analogi air traffic controller tadi, Teddy mengelola isu dan komunikasi dengan baik dan optimal. Karena informasi sangat beragam dan berjibun, sehingga harus dikelola dengan baik. Ada terminologi ‘too much information will kill you’. Air bah informasi itu harus dikelola, harus ada irigasinya. Pengatur irigasi itu adalah Teddy sebagai Seskab,” ujarnya.
Terkait kritik mengenai usia Teddy, Qodari menegaskan kompetensi sebagai ukuran utama. “Sebagian orang menganggap Teddy terlalu muda dan kurang pengalaman. Tetapi penghargaan itu menunjukkan Teddy memang kompeten. Walaupun usia relatif muda yakni 36 tahun, yang penting adalah kompetensinya. Kalau masih ada elite yang mengatakan Teddy terlalu muda, ya itu kurang informasi dan kurang gaul. Karena ini zaman dimana meritokrasi itu di atas usia,” tegasnya.
Qodari juga menyampaikan contoh sejarah dan tokoh global untuk memperkuat pandangannya. “Presiden Sukarno mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI) pada 1927 di usia 26 tahun. Pidato Indonesia Menggugat dibacakan Sukarno pada 1930 di depan pengadilan kolonial Belanda di Bandung saat usianya 29 tahun,” terangnya.
Di luar negeri, ia menyebut Zohran Mamdani yang menjadi Wali Kota New York pada usia 34 tahun, serta Perdana Menteri Belanda Rob Jetten yang memimpin pada usia 38 tahun.
“Artinya, Teddy memang berusia relatif muda, tetapi kemampuannya sudah sesuai dengan yang dibutuhkan Presiden,” tutup Qodari.










