
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto rabu 11 Februari 2026 (Foto: Youtube Setpres)
Penulis: Fityan
TVRINews-Jakarta
Presiden Prabowo tinjau penguatan fundamental makro dan ekspansi manufaktur dalam rapat kabinet terbatas.
Presiden Prabowo Subianto memimpin rapat koordinasi tingkat tinggi bersama jajaran menteri Kabinet Merah Putih di Istana Merdeka, Rabu 11 februari 2026, guna mengevaluasi ketahanan ekonomi nasional di tengah volatilitas global. Dalam pertemuan tersebut, pemerintah melaporkan performa pertumbuhan yang melampaui ekspektasi serta penguatan di berbagai sektor riil.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal keempat mencapai angka 5,39 persen.
Pencapaian ini menempatkan Indonesia pada posisi unggul dibandingkan negara-negara anggota G20 lainnya. Secara tahunan (year-on-year), pertumbuhan nasional tercatat stabil di angka 5,11 persen.
“Capaian ini sangat baik. Pertumbuhan 5,11 persen secara tahunan menunjukkan momentum yang terjaga,” ujar Airlangga dalam keterangannya pasca-rapat.
Ketahanan Sektor Riil dan Konsumsi
Data menunjukkan bahwa sektor manufaktur Indonesia tetap berada di zona ekspansi dengan indeks 52,6.
Indikator ini diperkuat oleh meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap kondisi pasar. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Januari naik ke level 127, mengungguli catatan bulan Desember.
Selaras dengan hal tersebut, Mandiri Spending Index menyentuh angka 372,5, yang mencerminkan aktivitas belanja masyarakat yang tetap solid.
Sektor penjualan riil juga mengalami akselerasi signifikan, tumbuh 7,9 persen secara tahunan, melonjak tajam dari angka 3,5 persen pada periode Desember tahun lalu.
Stabilitas Eksternal dan Tantangan Global
Dari sisi perdagangan luar negeri, Indonesia mencatatkan surplus neraca perdagangan selama 68 bulan berturut-turut dengan angka terakhir sebesar 2,51 miliar dolar AS.
Kekuatan eksternal ini didukung oleh cadangan devisa yang kokoh di level 154,6 miliar dolar AS, serta realisasi investasi (PMA dan PMDN) yang menembus Rp1.931,2 triliun.
Meskipun indikator makro menunjukkan performa positif, pemerintah tetap mewaspadai dinamika persepsi pasar internasional. Airlangga menekankan pentingnya respons kebijakan terhadap proyeksi negatif dari lembaga pemeringkat Moody’s, meskipun status kredit Indonesia masih bertahan di level layak investasi (investment grade).
“Hal ini menjadi perhatian utama, terutama terkait penjelasan mengenai potensi peningkatan penerimaan negara serta strategi pengembangan Danantara ke depan,” tambah Airlangga.
Langkah strategis ini menegaskan fokus pemerintahan Presiden Prabowo untuk tidak hanya menjaga stabilitas fiskal, tetapi juga mendorong akselerasi pertumbuhan yang terstruktur guna menghadapi ketidakpastian ekonomi global.
Editor: Redaktur TVRINews
