
Foto: Ilustrasi TVRINews.com by FY
Penulis: Fityan
TVRINews - Jakarta
Pemerintah dan Pelaku Usaha Sinkronkan Langkah Guna Mengejar Target 100 Persen Energi Terbarukan
Indonesia kini berada di titik persimpangan krusial dalam peta jalan energi nasional. Melalui forum Energy Outlook 2026, para pemangku kepentingan dari regulator, BUMN, hingga sektor swasta berkumpul untuk menyelaraskan visi transisi energi yang berkelanjutan dan inklusif di tengah tuntutan global yang kian mendesak.
Langkah ini menyusul komitmen Presiden Prabowo Subianto untuk menghentikan penggunaan bahan bakar fosil dalam kurun waktu 10 hingga 15 tahun ke depan.
Transformasi ini diarahkan sepenuhnya menuju pemanfaatan energi terbarukan secara total guna mencapai kemandirian energi nasional.
Kesenjangan Implementasi dan Tantangan Struktural
Meskipun arah politik telah ditetapkan, laporan Indonesia Energy Transition Outlook (IETO) 2026 mengungkapkan adanya tantangan besar antara target yang diumumkan dengan realisasi di lapangan.
Laporan tersebut mengidentifikasi tiga hambatan utama: fragmentasi infrastruktur jaringan listrik, lemahnya koordinasi kebijakan lintas lembaga, serta ketatnya akses pendanaan meski komitmen Just Energy Transition Partnership (JETP) telah tersedia.
Dalam diskusi mengenai tata kelola energi, Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) periode 2026-2030, Satya Widya Yudha, menekankan pentingnya sinergi kebijakan agar target energi bersih tidak berbenturan dengan rencana pengembangan infrastruktur eksisting.
Senada dengan hal tersebut, Direktur Transmisi dan Perencanaan Sistem PT PLN (Persero), Edwin Nugraha Putra, menyoroti perlunya akselerasi investasi pada infrastruktur jaringan guna mengintegrasikan sumber energi baru yang lebih bersih ke dalam sistem nasional.
Potensi Besar di Tengah Perubahan Global
Indonesia memiliki modalitas yang sangat besar untuk memimpin pasar energi hijau. Data menunjukkan potensi energi surya mencapai 7.700 GW yang belum tergarap maksimal, ditambah dengan cadangan panas bumi serta energi angin yang signifikan.
Secara ekonomi, energi surya yang dikombinasikan dengan sistem penyimpanan energi baterai (Battery Energy Storage System/BESS) kini dinilai lebih kompetitif dibandingkan pembangkit listrik tenaga diesel atau batu bara baru.
Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi, Todotua Pasaribu, dalam sesi Fireside Chat, menegaskan bahwa posisi Indonesia sebagai penyedia utama nikel dan kobalt merupakan kunci dalam rantai pasok global kendaraan listrik (EV).
Reformasi Pasar dan Langkah Strategis
Untuk mencapai swasembada, laporan IETO 2026 merekomendasikan langkah-langkah konkret, termasuk reformasi pasar, penyesuaian subsidi bahan bakar fosil, serta penyelarasan dokumen kebijakan antar kementerian.
"Transisi ini akan tetap terjadi seiring menurunnya permintaan batu bara global. Indonesia harus memilih untuk membentuk perubahan tersebut atau justru tergilas oleh arus perubahan ekonomi dunia," tulis laporan tersebut.
Forum ini juga dihadiri oleh tokoh-tokoh kunci seperti Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno, Dirjen Migas Laode Sulaeman, Dirjen EBTKE Eniya Listiani Dewi, serta Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Oki Muraza.
Editor: Redaksi TVRINews
