
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) Pratikno dalam agenda KolaborAKSI di kantor Kemenko PMK, Selasa, 17 Juni 2025. (Foto: Tangkapan Layar YouTube Kemenko PMK)
Penulis: Ridho Dwi Putranto
TVRINews, Jakarta
Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) membentuk gugus tugas untuk mendorong pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) secara bijak dan cerdas. Gugus tugas ini dibentuk sebagai upaya mitigasi dampak disrupsi teknologi terhadap manusia dan kehidupan sosial.
Hal itu disampaikan Menteri Koordinator PMK, Pratikno dalam agenda KolaborAKSI di kantor Kemenko PMK, Selasa, 17 Juni 2025.
"Kami di Kemenko PMK sudah membentuk gugus tugas AI untuk mendorong pemanfaatan AI secara bijak dan cerdas. Tata kelola teknologinya disiapkan oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), sementara pengembangan sumber daya manusia menjadi bagian dari koordinasi kami," ujar Pratikno.
Menurut Pratikno, pembentukan gugus tugas ini didasari oleh kekhawatiran terhadap dampak AI yang kian nyata di berbagai sektor, mulai dari anak-anak, remaja, hingga pendidikan dan kebudayaan. Ia menegaskan bahwa disrupsi teknologi adalah tantangan serius yang harus diantisipasi secara komprehensif.
"AI sangat mendisrupsi kehidupan anak-anak, remaja, keluarga, perempuan, bahkan berdampak pada nilai-nilai agama, budaya, pendidikan, dan kesehatan. Ini adalah tanggung jawab besar yang harus kita kawal bersama," tegasnya.
Meski begitu, Pratikno mengakui bahwa teknologi AI juga membawa banyak manfaat. Ia menyebut bahwa pemanfaatan teknologi yang tepat dapat memperkuat kemampuan manusia di berbagai bidang.
"Tidak mungkin manusia Indonesia yang tidak menggunakan teknologi bisa bersaing dengan mereka yang menguasai teknologi. Karena itu, kita harus memanfaatkan teknologi, tapi dengan cara yang bijak dan cerdas," jelasnya.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya prinsip human-centered technology, yakni teknologi yang tetap menempatkan manusia sebagai pusat dan pengendali.
"AI harus dikendalikan oleh manusia. Kita ingin teknologi ini meningkatkan produktivitas, bukan justru membuat kita kehilangan arah. Ini yang sedang kita perjuangkan," ujarnya.
Pratikno juga menyoroti fenomena penggunaan teknologi secara berlebihan, khususnya media sosial dan perangkat digital. Berdasarkan data yang ia sampaikan, rata-rata waktu penggunaan layar (screen time) masyarakat Indonesia mencapai 7,5 jam per hari.
"Artinya, ada yang menghabiskan waktu belasan jam di depan layar setiap harinya. Bahkan balita kini sudah terpapar gawai sejak dini, yang bisa memengaruhi pola pikir menjadi instan dan dangkal," kata Pratikno.
Ia menambahkan bahwa budaya scrolling yang terjadi akibat paparan digital dapat memotong alur berpikir dan menurunkan kemampuan berpikir kritis dan mendalam.
Baca Juga: Gubernur Banten Dorong Kolaborasi Antarprovinsi Atasi Banjir dan Ketahanan Pangan
Editor: Redaksi TVRINews
