
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Pratikno (ketiga dari kiri) (TVRINews/Krisafika Taraisya)
Penulis: Krisafika Taraisya Subagio
TVRINews, Jakarta
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Pratikno mengatakan Indonesia memiliki banyak anak berbakat yang kemampuannya sudah tidak lagi berada pada level rata-rata. Bahkan, menurutnya, ada anak-anak Indonesia yang telah 'melompat' jauh melampaui perkembangan zaman.
"Anak-anak kita ini luar biasa. Ada yang sudah seperti hidup di abad 22. Karyanya bukan hanya inovatif, tapi juga menyentuh isu-isu global," ujar Pratikno dalam forum Multi-Stakeholders Dialogue terkait pengembangan SDM dan pemanfaatan teknologi kecerdasan artifisial, di kantor Kemenko PMK, Jakarta, Rabu 26 November 2025.
Lebih lanjut, ia mencontohkan sejumlah inovasi yang dihasilkan generasi muda Indonesia, mulai dari aplikasi berbasis AI untuk bahasa isyarat, gim edukasi, hingga program berbasis SDGs yang dibuat anak-anak sekolah.
Menurutnya, talenta-talenta seperti ini harus segera difasilitasi negara agar bisa berkembang menjadi SDM unggul yang bersaing di tingkat global.
Namun, Pratikno menegaskan bahwa di sisi lain masih banyak anak Indonesia yang tertinggal dalam akses pendidikan dan kualitas pembelajaran.
Karena itu, pemerintah menerapkan prinsip no one left behind dalam pembangunan SDM, dengan memastikan anak-anak dari keluarga kurang mampu juga mendapatkan kesempatan belajar yang setara.
"Pemerintah mendorong sekolah unggulan bagi anak-anak berbakat agar bisa kompetitif secara global, tapi pada saat yang sama kita bangun juga sekolah rakyat untuk anak-anak dari desil 1 dan 2. Keduanya jalan beriringan," jelasnya.
Kemudian, Pratikno juga menyoroti penggunaan kecerdasan artifisial (AI) untuk memperkuat pembangunan manusia di Indonesia.
Salah satu upayanya adalah pembangunan National Human Development Integrated Dashboard, sebuah sistem analitik berbasis AI yang dirancang untuk intervensi presisi dalam penanganan stunting, kemiskinan, hingga penyakit menular.
Menurutnya, teknologi harus dimanfaatkan untuk memperkecil ketimpangan, bukan memperlebar jurang antara yang mampu dan tidak mampu.
"AI harus menjadi alat untuk closing the gap, bukan widening the gap. Teknologi ini harus memajukan semua, bukan hanya kelompok tertentu," ucapnya.
Di tengah tantangan kesehatan, pendidikan, hingga bencana hidrometeorologi yang mencapai lebih dari 3.000 kasus per tahun, Pratikno menilai Indonesia tidak punya pilihan lain selain menyiapkan SDM yang tangguh, adaptif, dan mampu memanfaatkan teknologi dengan cerdas.
"Kita punya modal besar: anak-anak berbakat yang sudah melompat ke abad 22. Tugas negara adalah memastikan seluruh ekosistemnya mendukung, sambil memastikan tidak ada satupun anak yang tertinggal," tegasnya.
Editor: Redaktur TVRINews
