
Penulis: Ricardo Julio
TVRINews, Surabaya
Menteri Transmigrasi (Mentrans) Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara memberikan penjelasan mendalam mengenai arah kebijakan program Transmigrasi Patriot pasca menghadiri Wisuda ke-133 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) di Surabaya, Sabtu 18 April 2026.
Dalam keterangannya, Mentrans mengapresiasi dukungan berkelanjutan dari ITS serta mengumumkan bergabungnya tiga mitra universitas baru dalam program tersebut, yakni Universitas Airlangga (UNAIR), Universitas Brawijaya, dan Universitas Hasanuddin. Dengan tambahan ini, total terdapat sepuluh mitra kampus utama yang berkolaborasi dengan Kementerian Transmigrasi.
“Saya berterima kasih kepada ITS yang terus mendukung program Transmigrasi Patriot yang memang saya mungkin nanti akan ada penjelasan secara resmi tetapi dalam minggu-minggu ini kami dengan tujuh plus tiga jadi sekarang selain tujuh mitra utama kami ada tambahan lagi tiga universitas yang ikut bergabung dalam program Transmigrasi Patriot yakni UNAIR, Brawijaya, dan Universitas Hassanudin,” ujar Iftitah.
Namun, di balik penguatan kemitraan tersebut, Mentrans mengungkapkan adanya penyesuaian anggaran yang berdampak pada penundaan program beasiswa Transmigrasi Patriot untuk tahun ini. Keputusan tersebut diambil setelah kementerian melakukan penghitungan ulang guna memastikan penggunaan anggaran yang lebih bijaksana dan langsung menyentuh masyarakat.
“Dalam minggu-minggu ini kami sedang menghitung ulang terkait dengan budget yang akan kami implementasikan dalam program Transmigrasi Patriot jadi kami dapat sampaikan kemungkinan besar program beasiswa ini akan ditunda tidak dilakukan tahun ini mengingat anggaran yang kami miliki saat ini itu akan langsung diberikan diimplementasikan kepada kebutuhan rakyat yang bersifat segera,” jelasnya.
Mentrans mengakui bahwa program beasiswa ini sebenarnya sangat strategis untuk menciptakan kawasan ekonomi berbasis SDM unggul. Namun, ia menekankan bahwa investasi tersebut bersifat jangka menengah dan panjang, sementara saat ini dibutuhkan solusi yang lebih cepat bagi masyarakat melalui program bakti nyata.
“Memang kita tahu bahwa beasiswa ini itu adalah satu program yang sangat brilian, luar biasa untuk penciptan kawasan ekonomi dengan mengedepankan basisnya ini adalah SDM unggul tetapi ini adalah investasi menengah dan jangka panjang. Sementara dalam situasi ekonomi hari-hari ini, juga tekanan eksternal yang cukup besar, maka penggunaan budget secara bijaksana itu akan lebih baik bukan hanya bagi kami, Kementerian Transmigrasi tetapi juga bagi masyarakat yang berada di kawasan-kawasan transmigrasi,” tuturnya.
Terkait kapan beasiswa tersebut akan dibuka kembali, Mentrans menyatakan akan terus memantau kondisi anggaran dan prioritas kebutuhan rakyat di masa mendatang.
“Beasiswa nanti akan kita lakukan, insyaallah kalau tidak tahun depan, mungkin tahun depannya lagi kita akan melihat constraint budget dan kepentingan rakyat. Karena tadi, ini adalah investasi jangka menengah dan panjang. Sementara, jadi secara konseptual itu sudah sepakat. Seluruh kampus secara konseptual sudah sepakat. Ada nanti S1, S2, dan S3,” ungkapnya.
Sebagai langkah konkret jangka pendek, Mentrans menegaskan bahwa program Ekspedisi Patriot tahun ini akan dikembangkan menjadi aksi aplikatif yang menjawab kebutuhan mendesak di kawasan transmigrasi.
“Tetapi yang lebih penting sekarang adalah bagaimana menjawab kebutuhan masyarakat. Maka dalam ekspedisi patriot tahun ini pun, itu nanti tidak lagi kami riset saja. Tapi juga ada bakti transmigrasinya. Ada bakti nusantaranya. Jadi nanti, beberapa tim yang ada di kawasan transmigrasi akan kita berikan sejumlah budget untuk nanti aplikatif. Langsung menjawab kebutuhan yang dibutuhkan oleh masyarakat di kawasan transmigrasi,” pungkas Mentrans.
Editor: Redaksi TVRINews
