
dok. Kemensos
Penulis: Redaksi TVRINews
TVRINews, Jayapura
Kecintaan pada dunia pendidikan menjadi bahan bakar semangat para guru Sekolah Rakyat. Salah satunya Noreka Elisabeth, yang rela meninggalkan keluarga kecilnya di Kota Tangerang demi mengajar anak-anak Papua.
Noreka mengenang momen ketika penempatannya diumumkan pada awal Juli 2025.
“Dini hari suami yang memberi tahu. Masya Allah, ternyata ditempatkan di Jayapura. Saya sempat kaget karena tidak menyangka akan dikirim sejauh ini,”ujar Noreka dalam keterangan tertulis, Minggu, 7 Desember 2025.
Lulusan Jurusan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta tahun 2023 ini mengaku bahwa mengajar adalah panggilan hidupnya. Setelah lulus, ia mengikuti Program Profesi Guru (PPG) selama setahun di Universitas Sultan Agung Tirtayasa, Serang, Banten. Hampir setiap hari, ia menempuh perjalanan empat jam pulang-pergi lintas provinsi tanpa keluhan.
“Menurut saya jarak bukan hambatan, tapi justru kesempatan. Saya anggap perjalanan itu proses dan petualangan. Saya datang untuk mengajar, tapi ternyata di sinilah saya belajar menjadi guru sebenarnya,”jelasnya.
Semangat Noreka bersumber dari restu keluarga. Suaminya yang bertugas di Lapas Kelas I Tangerang serta mertuanya selalu mendukung penuh langkahnya sejak mereka menikah pada 2020. Ia bahkan menyebut peran mertuanya begitu besar, menggantikan sosok ibu yang telah wafat.
Sebagai perempuan asal Sragen, Noreka merasa sangat terbantu karena mertuanya ikut menjaga anaknya yang masih balita, baik ketika ia menempuh PPG maupun selama bertugas di Papua.
“Kepercayaan keluarga membuat saya mantap memilih Sekolah Rakyat. Saya melihat visi dan misinya sangat mulia, dan saya ingin ambil bagian,”ucapnya.
Adaptasi Noreka berjalan cepat berkat dukungan pengelola sekolah dan para guru lainnya. Setibanya di Jayapura, ia dan rekan-rekan dari Pulau Jawa disambut hangat oleh Kepala Sekolah Yanet Berotabui.
“Beliau langsung memeluk kami, senyumannya hangat sekali. Sampai sekarang saya masih ingat rasanya. Beliau sudah seperti orang tua kami di sini,”ungkapnya.
Kepala sekolah bahkan langsung menanyakan kebutuhan pribadi dan perlengkapan mengajar yang perlu dipenuhi.
“Mungkin Papua memang membutuhkan guru dari Jawa, termasuk saya dan teman-teman,” tambahnya.
Di Papua, Noreka mendapatkan keluarga baru sekaligus pengalaman baru, mulai dari mengikuti diklat di Jakarta hingga mengisi siniar Kemendikdasmen untuk berbagi cerita sebagai guru Sekolah Rakyat.
Ia menyadari, perjalanan hidupnya selalu menawarkan keseimbangan.
“Allah tidak mungkin memberi sesuatu yang hanya membuat kita sedih. Selalu ada hikmah. Hidup itu seimbang,”lanjutnya.
Perannya sebagai guru, istri, dan ibu ia jalani dengan penuh upaya meski terpisah jarak. Video call menjadi penghubung rutin antara dirinya dengan suami, anak, dan mertua.
“Suami selalu bilang, jalankan tugas ini untuk negeri. Kalau kita menjaga anak orang, Allah akan menjaga anak kita. Itu sangat menenangkan,”tuturnya.
Noreka merasakan sambutan hangat dari siswa di Papua sejak hari pertama mengajar.
“Anak-anaknya antusias. Sapaan ‘Selamat pagi Ibu Guru’ itu sederhana, tapi sangat berkesan. Itu tidak saya dapatkan di Jawa,”kata Noreka.
Aktivitas fisik yang difasilitasi Kementerian Sosial seperti badminton, voli, sepak bola hingga bernyanyi, turut mempererat hubungan guru dan siswa.
“Di sini bukan hanya mengajar di kelas, tapi juga memahami karakter peserta didik, lingkungan, dan budaya. Ini tantangan sekaligus pengalaman berharga,” ujarnya.
Kisah Noreka di Papua menjadi contoh nyata kontribusi guru muda dalam pemerataan pendidikan di Indonesia. Baginya, kesempatan mengajar di ujung timur Indonesia adalah anugerah.
“Cita-cita itu saya perjuangkan. Lalu Allah memberi rezeki berupa diterima di Sekolah Rakyat Jayapura. Mungkin bagi orang lain tidak seberapa, tapi saya akan sangat menyesal kalau tidak mengambil kesempatan ini,” tutup Noreka.
Editor: Redaktur TVRINews
