
dok. Kemendikdasmen
Penulis: Lidya Thalia.S
TVRINews, Jakarta
Tantangan literasi dan numerasi yang masih menjadi persoalan mendasar dalam pendidikan Indonesia mendorong Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah bersama sejumlah mitra pembangunan menginisiasi program kolaboratif untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional.
Melalui Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM), Kemendikdasmen menggandeng Tanoto Foundation, Gates Foundation, serta UNICEF dalam program bertajuk Partisipasi Semesta untuk Pendidikan Bermutu: Kolaborasi Multipihak untuk Peningkatan Literasi dan Numerasi Nasional.
Inisiatif ini juga melibatkan pemerintah daerah di sejumlah kabupaten/kota sebagai bagian dari upaya bersama memperkuat implementasi Gerakan Literasi Nasional (GLN) dan Gerakan Numerasi Nasional (GNN), khususnya pada jenjang kelas awal sekolah dasar.
Program yang dirancang hingga 2029 tersebut difokuskan pada penguatan kemampuan dasar membaca, menulis, dan berhitung siswa. Selain menjadi fondasi akademik, kemampuan tersebut juga berperan penting dalam membangun kepercayaan diri serta kemampuan berpikir anak.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa berbagai tantangan seperti learning loss dan learning poverty harus menjadi dorongan untuk melakukan perbaikan berkelanjutan dalam sistem pendidikan.
“Berbagai permasalahan yang kita hadapi bukanlah akhir, melainkan motivasi untuk bekerja lebih baik. Kita harus memastikan seluruh anak Indonesia mendapatkan layanan pendidikan yang berkualitas dan merata,”ujar Mu’ti dalam keterangan tertulis, Jumat, 10 April 2026.
Sementara itu, Head of Learning Environment Department Tanoto Foundation, Margaretha Ari Widowati, menekankan bahwa literasi dan numerasi merupakan fondasi utama keberhasilan pembelajaran. Menurutnya, penguatan kedua aspek tersebut memerlukan kolaborasi lintas sektor.
“Literasi dan numerasi bukan sekadar keterampilan akademik, tetapi menjadi dasar bagi anak untuk terus belajar, berpikir kritis, dan berkembang,”ungkap Margaretha.
Ia menambahkan, pendekatan berbasis data akan menjadi kunci dalam memastikan intervensi pembelajaran tepat sasaran serta mampu meningkatkan kualitas praktik belajar di kelas.
Hal senada disampaikan Perwakilan UNICEF Indonesia, Maniza Zaman, yang menegaskan pentingnya kolaborasi dalam menjamin hak setiap anak memperoleh pendidikan berkualitas.
“Setiap anak berhak mendapatkan pendidikan yang layak. Upaya bersama ini merupakan investasi penting bagi masa depan generasi muda,”kata Maniza.
Ia juga menyoroti krisis pembelajaran global yang masih terjadi, di mana banyak anak belum mampu memahami bacaan sederhana pada usia 10 tahun. Karena itu, diperlukan upaya kolektif untuk mempercepat peningkatan kualitas pendidikan.
Sementara itu, Senior Program Officer for Global Education Gates Foundation India, Satish Menon, menyebut kolaborasi multipihak sebagai kunci dalam menciptakan dampak pendidikan yang berkelanjutan.
“Inisiatif ini menunjukkan bahwa kemitraan yang kuat, didukung pemanfaatan data yang efektif, dapat mendorong perubahan nyata bagi masa depan anak-anak,”ujar .
Dalam implementasinya, program ini akan berfokus pada tiga hal utama, yakni penguatan kemampuan berpikir dasar siswa, peningkatan minat baca melalui ketersediaan bahan bacaan yang menarik, serta pengembangan budaya belajar numerasi berbasis pemahaman logika.
Melalui sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan mitra pembangunan, Kemendikdasmen optimistis upaya ini dapat mempercepat peningkatan kualitas pendidikan nasional sekaligus mendukung terwujudnya generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045.
Editor: Redaksi TVRINews
