Penulis: Hari Sukemi
TVRINews, Jatim
Guna mencegah penyebaran penyakit Antraks seperti kasus di Kabupaten Gunung Kidul Daerah Istimewa Yogyakarta, Dinas Peternakan (Disnak) Kabupaten Jombang bergerak cepat.
Selain vaksinasi terhadap hewan ternak, lalu lintas ternak di di seluruh pasar hewan dipantau kesehatannya. Upaya edukasi juga ditingkatkan untuk mencegah berulangnya konsumsi hewan ternak yang sakit atau mati.
Sejumlah upaya dilakukan Pemkab Jombang untuk mencegah meluasnya penularan penyakit Anthrax seperti yang terjadi di Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Selain vaksinasi terhadap ratusan hewan ternak, lalu lintas ternak di seluruh pasar hewan dipantau kesehatannya, salah satunya seperti di pasar hewan Kecamatan Kabuh Jombang.
Baca juga: Timnas Wanita Masih Berpeluang Raih Peringkat ke-3 Piala AFF U-19
Setiap hewan yang baru datang dan hendak diperjualbelikan langsung diberi vaksin dan vitamin serta dicatat tanda telinga (ear tag) dan cek barcode yang muncul di aplikasi asal sapi.
Data kepemilikan serta riwayat vaksinasi bahkan upaya edukasi kepada para peternak dan penjual hewan sapi juga ditingkatkan untuk mencegah berulangnya konsumsi hewan ternak yang sakit atau mati.
“Sejak adanya laporan kasus Antraks di Gunung Kidul, tingkat kewaspadaan terhadap lalu-lintas sapi dan kambing ditingkatkan. Untuk sementara ini sapi yang berasal dari Jawa Tengah dan Yogyakarta dilarang masuk wilayah Jombang,” ungkap Kepala Bidang Kesehatan Hewan Disnak Jombang, Azis Daryanto.
Disnak Jombang mencatat saat ini sudah ribuan sapi dan kambing yang diberi vaksinasi dan vitamin, meskipun belum menyentuh di seluruh 21 kecamatan. Pemberian vaksin yang disertai edukasi secara terus menerus akan diberikan secara bergiliran melalui mantri hewan dan para dokter hewan di masing-masing wilayah kerjanya.
Editor: Redaktur TVRINews
