
Foto: Istimewa
Penulis: Ricardo Julio
TVRINews, Bandung
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat terus menggencarkan operasi modifikasi cuaca. Langkah ini dilakukan untuk mengurangi potensi hujan lebat di sekitar area longsor Cisarua guna mencegah dampak bencana susulan.
Kepala BMKG Bandung, Teguh Rahayu, mengungkapkan bahwa operasi tersebut telah dilaksanakan sejak 24 Januari 2026 dan masih terus berlanjut hingga saat ini. Intensitas operasi ditingkatkan mengingat wilayah Jawa Barat kini tengah berada pada puncak musim hujan dengan pertumbuhan awan yang sangat tinggi.
“BMKG bersama BNPB dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat sudah melakukan modifikasi cuaca dan sampai hari ini masih terus berjalan,” kata Rahayu dalam keterangannya dikutip, Kamis 29 Januari 2026.
Ia menjelaskan, hingga saat ini jumlah total penerbangan operasi modifikasi cuaca telah mencapai lebih dari 10 kali. Upaya mitigasi ini diprioritaskan untuk menekan potensi hujan lebat yang dapat memperparah kondisi wilayah rawan bencana, khususnya di Kabupaten Bandung Barat.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga memaparkan bahwa sebelum terjadinya longsor di Cisarua, wilayah tersebut sempat diguyur hujan dengan intensitas yang sangat ekstrem.
“Sehari sebelum kejadian, tercatat curah hujan ekstrem di atas 200 milimeter. Kejadiannya ekstrem pada tanggal 23,” jelasnya.
Ia menganalogikan bahwa besarnya volume air yang turun saat itu setara dengan akumulasi hujan selama satu bulan, namun tumpah hanya dalam durasi satu hari.
“Ibaratnya, intensitas curah hujan yang seharusnya tumpah sebulan itu tumpah dalam satu hari,” ujarnya.
Operasi modifikasi cuaca ini diharapkan dapat mengalihkan pertumbuhan awan hujan sehingga proses penanganan di lokasi bencana longsor dapat berjalan lebih optimal dan aman bagi para petugas maupun warga sekitar.
Editor: Redaksi TVRINews
