Penulis: Krisafika Taraisya Subagio
TVRINews, Jakarta
Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Surabaya resmi ditetapkan sebagai lokasi percontohan (pilot project) layanan pengambilan data biometrik paspor dinas.
Penunjukan ini merupakan hasil kolaborasi antara Direktorat Jenderal Imigrasi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan dengan Direktorat Konsuler Kementerian Luar Negeri.
Langkah strategis ini diambil untuk mengintegrasikan data pemegang paspor dinas ke dalam Sistem Informasi Manajemen Keimigrasian (SIMKIM), sekaligus memperluas akses layanan bagi aparatur negara di daerah.
Selama ini, sejumlah kendala teknis masih dihadapi pemegang paspor dinas, mulai dari data biometrik yang belum terekam dalam sistem hingga gangguan pembacaan di gerbang otomatis (autogate) bandara internasional.
Direktur Visa dan Dokumen Perjalanan Ditjen Imigrasi, Eko Budianto, mengatakan inovasi ini menjadi solusi atas berbagai isu strategis dalam pengelolaan dokumen perjalanan dinas.
Melalui penguatan regulasi dan interoperabilitas sistem, pengambilan biometrik paspor dinas kini dapat dilakukan di kantor imigrasi di seluruh wilayah Indonesia, tidak lagi terpusat di Jakarta.
"Langkah ini memastikan seluruh pemegang paspor dinas terekam dalam sistem keimigrasian nasional," ujar Eko dalam keterangan tertulis, dikutip dari siaran pers yang diterima tvrinews.com, Jumat, 20 Februari 2026.
Sementara itu, Direktur Konsuler Kementerian Luar Negeri, Akio Tamala, menegaskan transformasi menuju paspor dinas elektronik menjadi kebutuhan mendesak, bukan hanya dari sisi teknis, tetapi juga sebagai instrumen diplomasi.
Menurutnya, sejumlah negara hanya memberikan fasilitas bebas visa bagi pemegang paspor diplomatik dan dinas elektronik Indonesia. Denmark dan Swedia, misalnya, mensyaratkan paspor elektronik untuk fasilitas bebas visa. Negosiasi dengan Spanyol dan Jerman pun hanya mencakup paspor elektronik.
Data Kementerian Luar Negeri mencatat terdapat sekitar 24.000 permohonan paspor dinas setiap tahun, dengan lebih dari 1.200 permohonan berasal dari daerah.
Kondisi ini membuat desentralisasi layanan biometrik menjadi kebutuhan penting guna mempercepat proses dan meningkatkan efisiensi.
Dalam pelaksanaan pilot project di Surabaya, pengambilan data biometrik dilakukan secara simbolis terhadap empat Taruna Akademi Angkatan Laut (AAL), serta diikuti 90 taruna lainnya sebagai bagian dari evaluasi kesiapan teknis dan koordinasi antarinstansi.
Program ini merupakan pengembangan dari uji coba awal yang telah dilaksanakan di Kantor Imigrasi Kelas I TPI Surakarta pada November tahun lalu. Ke depan, layanan pengambilan biometrik paspor dinas akan diperluas secara bertahap ke 151 kantor imigrasi di seluruh Indonesia.
Kepala Kantor Wilayah Ditjen Imigrasi Jawa Timur, Novianto Sulastono, menyebut penunjukan Surabaya sebagai pilot project menjadi kehormatan sekaligus tantangan.
"Ini menjadi tanggung jawab kami untuk memastikan layanan berjalan optimal dan dapat menjadi model penerapan di satuan kerja lainnya," ucap Novianto Sulastono.
Editor: Redaktur TVRINews
