
Dok. Kementrans
Penulis: Krisafika Taraisya Subagio
TVRINews, Jakarta
Menteri Transmigrasi RI, Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara, menyoroti dua tantangan besar yang saat ini dihadapi program transmigrasi.
Menurutnya, persoalan utama terletak pada persepsi publik yang keliru serta upaya menjadikan kawasan transmigrasi sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru.
Lebih lanjut Iftitah menjelaskan, banyak masyarakat masih menganggap transmigrasi hanya sebatas memindahkan penduduk dari daerah padat ke wilayah yang jarang penduduk.
"Bahkan ada yang menganggap transmigrasi sebagai upaya memindahkan masalah. Persepsi semacam ini sudah terlanjur mengakar di masyarakat dan tidak mudah untuk diubah," kata Iftitah dalam keterangannya, Sabtu 30 Agustus 2025.
Kemudian ia menegaskan, visi Presiden Prabowo Subianto membentuk kembali Kementerian Transmigrasi bukan sekadar soal perpindahan penduduk. Lebih dari itu, transmigrasi diproyeksikan menjadi salah satu instrumen untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dan mempercepat pemerataan pembangunan nasional.
Tantangan kedua, lanjut Iftitah, adalah menciptakan kepastian kehidupan yang layak dan berkelanjutan di kawasan transmigrasi. Ia menyinggung kegagalan program di masa lalu, di mana ratusan kepala keluarga yang ditempatkan akhirnya kembali ke daerah asal karena tidak ada jaminan ekonomi.
"Kita tidak ingin hal itu terulang. Anggaran negara akan terbuang sia-sia jika masyarakat tidak betah tinggal di kawasan transmigrasi," ungkapnya.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, Kementrans kini fokus membangun daya tarik ekonomi di kawasan transmigrasi. Salah satu langkah awal yaitu menurunkan 2.000 peneliti ke 154 kawasan transmigrasi di seluruh Indonesia untuk memetakan potensi lokal sekaligus mendukung distribusi sumber daya manusia unggul.
"Kalau dulu strategi kita kirim orang dulu baru membangun, sekarang sebaliknya. Kita bangun dulu ‘gulanya’ agar masyarakat mau datang karena ada kehidupan yang menjanjikan," ucapnya.
Editor: Redaktur TVRINews
