
Penulis: Krisafika Taraisya Subagio
TVRINews, Jakarta
Kementerian Transmigrasi membuka peluang kerja sama investasi sektor energi dengan perusahaan global asal Tiongkok, China Energy Engineering Corporation (CEEC), yang berpotensi menciptakan ribuan lapangan kerja bagi masyarakat lokal di kawasan transmigrasi.
Salah satu kawasan yang dilirik adalah Batam Rempang Galang (Barelang). Hal tersebut disampaikan Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara.
Iftitah menegaskan bahwa investasi yang masuk ke kawasan transmigrasi harus memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, terutama melalui penciptaan lapangan kerja serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia.

"Kami menyambut baik rencana investasi yang mampu menyerap tenaga kerja lokal dalam jumlah besar. Prinsip kami sederhana, investasi yang masuk harus memberi manfaat nyata bagi masyarakat," ujar Iftitah dalam keterangan tertulis, dikutip dari siaran pers yang diterima tvrinews.com, Senin, 9 Maret 2026.
Pemerintah saat ini juga tengah menata kawasan Rempang sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru yang terintegrasi. Kawasan tersebut direncanakan berkembang menjadi kota industri modern dengan luas sekitar 8.000 hektare.
Sebagai bagian dari pengembangan kawasan, pemerintah menyiapkan berbagai infrastruktur pendukung, mulai dari dermaga nelayan, fasilitas cold storage, hingga Kampus Patriot yang akan menjadi pusat pendidikan dan pelatihan tenaga kerja bagi masyarakat di kawasan transmigrasi.
"Kampus Patriot kami siapkan sebagai kampus jarak jauh dari perguruan tinggi mitra sekaligus pusat pelatihan tenaga kerja yang dapat mendukung kebutuhan industri yang masuk ke kawasan tersebut," jelas Iftitah.
Sementara itu, CEEC menyampaikan minat untuk menjajaki peluang investasi di sejumlah kawasan transmigrasi, termasuk di Pulau Rempang. Perusahaan energi global yang masuk dalam jajaran 500 perusahaan terbesar di dunia itu menilai Indonesia sebagai salah satu tujuan investasi strategis.
"Kami melihat Indonesia sebagai salah satu tujuan investasi utama. Kami juga telah mengunjungi Pulau Rempang dan sedang mempelajari peluang investasi di kawasan tersebut," kata Vice President CEEC Southeast Asia Regional Headquarters, Jin Bin.
CEEC sendiri telah hadir di Indonesia sejak 1994 dan hingga kini telah melaksanakan lebih dari 100 proyek dengan total nilai kontrak sekitar 7 miliar dolar AS, terutama di sektor pembangkit listrik dan infrastruktur energi.
Menurut Jin Bin, setiap proyek yang dikembangkan berpotensi menyerap hingga 5.000 tenaga kerja dengan komposisi yang mengutamakan pekerja lokal Indonesia.
"Perbandingan tenaga kerja yang kami rencanakan adalah satu tenaga kerja dari Tiongkok untuk sepuluh tenaga kerja lokal Indonesia. Kami ingin memastikan investasi yang kami lakukan juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat," ucap Jin Bin.
Selain membuka peluang kerja, CEEC juga menyatakan kesiapan untuk mendukung peningkatan kapasitas tenaga kerja melalui program pelatihan yang dapat disinergikan dengan fasilitas pelatihan di kawasan transmigrasi.
Menteri Iftitah menambahkan, pemerintah saat ini tengah berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk BP Batam, untuk memastikan proses investasi di kawasan Rempang dapat berjalan secara kondusif dan berkelanjutan.
Menurutnya, pendekatan investasi yang mengedepankan pemberdayaan masyarakat menjadi kunci penting untuk menghindari konflik sosial yang pernah terjadi di kawasan tersebut beberapa tahun lalu.
"Jika investasi mampu menjadi solusi bagi masyarakat melalui lapangan kerja, maka dukungan masyarakat juga akan semakin kuat," ungkap Iftitah.
Editor: Redaksi TVRINews
