
Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar,
Penulis: Fityan
TVRINews-Jakarta
Menag Targetkan Indonesia Pimpin Ekonomi Syariah Dunia, Geser Malaysia
Indonesia saat ini mengokohkan posisinya di peringkat ketiga dunia dalam pengembangan ekonomi syariah.
Meski demikian, pemerintah meyakini bahwa dengan skala demografi dan sumber daya yang ada, Indonesia hanya membutuhkan waktu singkat untuk menjadi pemain utama di tingkat internasional.
Dalam forum Sharia Economic Forum yang digelar di Jakarta, Kamis 12 Februari 2026, Nasaruddin Umar menegaskan bahwa pertumbuhan sektor ini menunjukkan tren signifikan dalam dua tahun terakhir.
Ia menilai, luas wilayah dan jumlah penduduk Muslim yang besar merupakan modal utama yang tidak dimiliki oleh negara kompetitor.
"Kita saat ini berada di urutan ketiga, namun saya optimis dalam waktu dekat Indonesia akan menjadi yang terbaik di dunia," ujar Nasaruddin.
Perbandingan Strategis dan Kekuatan Fondasi
Nasaruddin secara khusus menyoroti potensi Indonesia yang jauh melampaui negara tetangga, Malaysia, dari sisi statistik kependudukan.
Dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa, Indonesia dianggap memiliki ruang pertumbuhan yang jauh lebih luas dibandingkan Malaysia yang berpenduduk sekitar 40 juta jiwa.
Selain faktor demografi, Ketua Umum Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) ini juga menekankan bahwa stabilitas makroekonomi nasional menjadi landasan pacu yang ideal.
Di tengah tantangan global, ekonomi Indonesia konsisten tumbuh di atas lima persen dengan angka inflasi yang terkendali.
"Pijakan untuk ekonomi syariah di tanah air sangat kokoh.
Jika dibandingkan dengan negara seperti Mesir yang menghadapi inflasi tinggi dan pertumbuhan rendah, Indonesia menawarkan prospek yang jauh lebih menjanjikan," tambahnya.
Optimalisasi Pasar Internasional
Data menunjukkan bahwa potensi keuangan sosial syariah Indonesia, yang bersumber dari zakat, wakaf, dan sumbangan keagamaan lainnya, mencapai angka Rp500 triliun. Namun, Nasaruddin mencatat bahwa keunggulan di sektor fesyen Muslim dan pariwisata halal masih didominasi oleh konsumsi domestik.
Menurutnya, Indonesia harus mulai berorientasi pada ekspor untuk memaksimalkan keuntungan ekonomi.
"Saat ini kita masih fokus menggarap pasar sendiri.
Jika kita mampu melakukan ekspansi dan menyasar pasar internasional secara masif, nilai ekonomi yang dihasilkan bisa meningkat hingga tiga kali lipat dari posisi saat ini," jelasnya menutup paparan.
Melalui perbaikan struktur dan fokus pada pasar global, pemerintah berharap ekonomi syariah tidak hanya menjadi pilar keagamaan, tetapi juga mesin baru bagi pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.
Editor: Redaksi TVRINews
