
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia (kanan) (Foto:: BPMI Setpres)
Penulis: Redaksi TVRINews
TVRINews-Jakarta
Presiden membentuk satgas khusus untuk memangkas ketergantungan fosil dan impor energi dalam empat tahun ke depan
Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan jajaran menterinya untuk segera mengakselerasi tiga inisiatif strategis di sektor energi baru terbarukan (EBT), sebagai upaya sistematis pemerintah untuk memperkuat ketahanan energi nasional dan mengurangi ketergantungan pada energi fosil yang dinilai tidak lagi efisien.
Dalam rapat terbatas yang digelar di kompleks Istana Kepresidenan pada Kamis 5 Maret 2026, Presiden menekankan pentingnya transisi energi guna memitigasi dampak fluktuasi harga komoditas global terhadap ekonomi domestik.

(Menteri Pendidikan, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto (Foto: Tangkapan Layar Youtube Setpres))
Menteri Pendidikan, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, mengungkapkan bahwa prioritas pertama pemerintah adalah mempercepat riset dan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).
Target ambisius ditetapkan dengan total kapasitas mencapai 100 Gigawatt (GW) di seluruh penjuru Indonesia.
"Arahan Presiden adalah memprioritaskan wilayah yang saat ini masih bergantung pada pembangkit listrik tenaga diesel," ujar Brian. Ia menambahkan bahwa Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akan bertindak sebagai koordinator utama proyek tersebut.
Selain infrastruktur pembangkit, pemerintah juga menyoroti sektor transportasi dan rumah tangga melalui dua langkah utama:
1. Konversi Kendaraan Listrik : Mempercepat peralihan dari kendaraan berbahan bakar minyak (BBM) guna menekan volume impor energi.
2. Transisi Kompor Listrik : Mengganti penggunaan LPG dengan kompor listrik untuk mengurangi beban subsidi yang kerap membengkak akibat gejolak harga internasional.
"Presiden meminta para menteri terkait untuk mempercepat pelaksanaan ini, sehingga ketergantungan kita terhadap impor dan harga yang fluktuatif bisa dikurangi," jelas Brian.
Pembentukan Satuan Tugas Khusus
Guna memastikan visi ini tidak sekadar menjadi wacana, Presiden Prabowo resmi membentuk Satuan Tugas (Satgas) Implementasi EBT.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia ditunjuk untuk memimpin satgas tersebut dengan target realisasi dalam kurun waktu tiga hingga empat tahun ke depan.
Bahlil menegaskan bahwa timnya akan bekerja cepat untuk menerjemahkan instruksi Presiden ke dalam langkah teknis yang konkret.
"Tugas kami adalah menjalankan dan menerjemahkan arahan ini secara cepat. Orientasinya jelas, agar transisi energi bisa dilakukan segera," tegas Bahlil di Jakarta.
Editor: Redaksi TVRINews
