TVRINews – Jakarta
BNPB melaporkan korban tewas akibat gempa bumi di Nusa Tenggara Timur bertambah menjadi 91 jiwa, sementara lebih dari 160 ribu warga mengungsi di tengah ancaman krisis kesehatan pascabencana.
Korban jiwa akibat gempa bumi yang melanda sejumlah wilayah di Nusa Tenggara Timur terus bertambah. Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat, hingga Minggu, 24 Agustus 2026, pukul 16.00 WIB, jumlah korban meninggal dunia resmi mencapai 91 orang.
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengonfirmasi adanya penambahan empat jiwa dari catatan hari sebelumnya. Sebagian besar korban kehilangan nyawa akibat tertimpa reruntuhan bangunan, sementara sisanya meninggal karena dampak tidak langsung dari bencana tersebut.
"Hingga pukul 16.00 WIB, jumlah korban meninggal sebanyak 91 orang atau bertambah empat orang dari hari sebelumnya," ujar Berton dalam keterangan resminya yang dikutip Senin 24 Agustus 2026.
Berdasarkan data instansi kebencanaan, sebaran korban jiwa paling parah terjadi di Kabupaten Manggarai dengan 32 korban tewas, disusul Manggarai Timur sebanyak 31 jiwa, Nagekeo 14 jiwa, Sikka enam jiwa, Ngada lima jiwa, Ende dua jiwa, serta Manggarai Barat satu jiwa. Dari total keseluruhan, 40 korban berjenis kelamin laki-laki dan 48 perempuan, sedangkan tiga lainnya masih dalam proses identifikasi lanjutan oleh tim forensik.
Selain korban meninggal, situasi di lapangan menunjukkan eskalasi krisis kemanusiaan yang signifikan. Sebanyak 1.286 warga dilaporkan mengalami luka-luka, dengan konsentrasi terbanyak berada di wilayah Manggarai Timur dan Manggarai Barat.
Gelombang pengungsian juga membengkak hingga mencakup 161.084 jiwa yang kini menempati sejumlah titik posko darurat.
"Kami menyampaikan dukacita mendalam atas meninggalnya warga yang terdampak gempa bumi, baik secara langsung maupun tidak langsung," tutur Berton seraya mengajak masyarakat untuk memanjatkan doa bagi keteguhan warga yang kehilangan sanak saudara.
Di tengah upaya evakuasi yang masih berjalan, otoritas kesehatan mulai mewaspadai potensi wabah penyakit di lokasi pengungsian. Laporan Kementerian Kesehatan yang diterima pihak penanggulangan bencana menunjukkan lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut yang kini mencapai 3.721 penderita.










