
dok. Kemendikdasmen
Penulis: Lidya Thalia.S
TVRINews, Jakarta
Di tengah bentang alam Lembata, Nusa Tenggara Timur, semangat belajar anak-anak di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) terus tumbuh. Keterbatasan fasilitas dan jarak dari pusat kota tidak menghalangi mereka untuk mengembangkan potensi. Melalui program Bina Talenta Indonesia (BTI) yang digagas Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas), dua murid SMP Negeri 2 Nubatukan membuktikan bahwa anak daerah 3T mampu bersaing di bidang teknologi.
Salah satunya adalah Wenseslaus Pito Koban. Putra seorang guru dan bidan ini mengaku tertarik mendalami koding sejak mengikuti BTI. Menurutnya, pelatihan tersebut membuka wawasan baru yang sebelumnya belum pernah ia pelajari di sekolah.
“Di Bina Talenta Indonesia saya mendapat banyak pengetahuan baru, terutama tentang koding. Ini sangat membantu saya untuk lebih fokus mengejar cita-cita di bidang IT,”kata Pito dalam keterangan tertulis, Minggu, 22 Februari 2026.
Wenseslaus dikenal sebagai murid berprestasi. Ia meraih Medali Emas Olimpiade Sains Nasional (OSN) tingkat kabupaten/kota cabang IPS tahun 2024 yang diselenggarakan Puspresnas. Saat mengikuti BTI luring yang digelar Puspresnas bekerja sama dengan Politeknik Negeri Jakarta (PNJ), ia dinobatkan sebagai murid teraktif dan bagian dari tim dengan karya terfavorit. Selain aktif di bidang akademik, Wenseslaus juga terlibat dalam kegiatan Pramuka.

Baginya, BTI bukan sekadar pelatihan teknis, tetapi pijakan awal untuk mewujudkan impian menjadi ahli teknologi informasi. Ia berpesan kepada teman-temannya agar terus berusaha dan tidak mudah menyerah dalam meraih cita-cita.
Semangat yang sama ditunjukkan Emanuel Sabon Gua, rekan satu sekolahnya. Putra seorang petani dan ibu rumah tangga ini juga mengikuti BTI luring di PNJ untuk memperdalam pengetahuan tentang Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA).
“Di BTI kami belajar lebih dalam tentang koding dan kecerdasan artifisial, juga penguatan karakter,”ujar Emanuel.
Emanuel juga memiliki catatan prestasi gemilang. Ia meraih Medali Emas OSN tingkat kabupaten/kota cabang IPA 2024, masuk empat besar Duta GenRe Kabupaten Lembata 2025, serta aktif dalam berbagai kompetisi akademik dan olahraga. Sepulang dari pelatihan, ia membagikan ilmu yang diperoleh kepada teman-temannya di sekolah. Meski menaruh minat besar pada teknologi, Emanuel bercita-cita menjadi presiden di masa depan.
Program Bina Talenta Indonesia merupakan bagian dari kebijakan Manajemen Talenta Murid sebagaimana diatur dalam Permendikdasmen Nomor 25 Tahun 2025. Program ini mencakup tahapan identifikasi, pengembangan, aktualisasi, apresiasi, hingga kapitalisasi talenta murid secara berjenjang dari tingkat sekolah hingga nasional dan internasional. BTI berfokus pada pengembangan bidang STEM, koding, kecerdasan artifisial, serta penguatan karakter secara aplikatif.
Kepala Pusat Prestasi Nasional, Maria Veronica Irene Herdjiono, mengatakan BTI dirancang untuk memperluas akses pembinaan talenta, khususnya di wilayah 3T.
“Program Bina Talenta Indonesia menjadi upaya pengembangan bakat dan minat murid. Dalam pelaksanaannya, Puspresnas memetakan daerah 3T yang fokus pada pengembangan talenta dan pemandu talenta,”ungkap Irene.
Antusiasme terhadap program ini tergolong tinggi. Tercatat 7.099 peserta dari 38 provinsi dan Sekolah Indonesia Luar Negeri (SILN) mendaftar BTI, terdiri atas 2.343 murid SMP, 1.013 pemandu talenta SMP, 2.482 murid SMA, dan 1.261 pemandu talenta SMA.
Kehadiran BTI mempertegas komitmen Kemendikdasmen dalam membangun ekosistem talenta yang inklusif. Dari Lembata, Wenseslaus dan Emanuel menunjukkan bahwa talenta tidak dibatasi letak geografis. Dengan akses pembinaan yang tepat dan kemauan belajar yang kuat, anak-anak 3T mampu berdiri sejajar dalam persaingan teknologi dan menjadi bagian dari generasi emas Indonesia.
Editor: Redaksi TVRINews
