
dok. Kementan
Penulis: Lidya Thalia.S
TVRINews, Jakarta
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memastikan seluruh jajaran Kementerian Pertanian terus turun ke lapangan untuk mendampingi petani dan mempercepat pemulihan sektor pertanian pascabencana yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Menurut Amran, laporan bencana dari daerah diterima setiap hari dan langsung ditindaklanjuti dengan mengerahkan tim teknis agar dampak terhadap produksi pangan dan kesejahteraan petani dapat ditekan.
“Begitu ada laporan, tim langsung bergerak. Negara harus hadir ketika petani menghadapi musibah,”kata Amran dalam keterangan tertulis, Rabu, 14 Januari 2026.
Ia menegaskan, keselamatan petani serta keberlanjutan produksi pangan menjadi prioritas utama. Karena itu, Kementan segera melakukan pendataan kerusakan lahan, sarana produksi, serta dampak terhadap tanaman pangan dan hortikultura di wilayah terdampak banjir dan bencana hidrometeorologi lainnya.
Berdasarkan data per 13 Januari 2026, luas sawah terdampak di ketiga provinsi mencapai 107.324 hektare, terdiri dari 56.077 hektare rusak ringan, 22.152 hektare rusak sedang, dan 29.095 hektare rusak berat. Dari jumlah tersebut, sekitar 44,6 ribu hektare lahan padi dan jagung mengalami gagal panen.
Selain sawah, lahan perkebunan non-sawit seperti kopi, kakao, dan kelapa juga terdampak seluas 29.310 hektare. Lahan hortikultura yang rusak tercatat 1.803 hektare, sementara lebih dari 820 ribu ekor ternak dilaporkan mati atau hilang.
Kerusakan juga terjadi pada infrastruktur pertanian, meliputi 58 unit rumah potong hewan, 2.300 unit alat dan mesin pertanian (alsintan) yang hilang, 74 balai penyuluhan pertanian, tiga bendungan, jaringan irigasi sepanjang 152 kilometer, serta 820 unit jalan produksi.
Sebagai respons cepat, Kementan telah menyalurkan bantuan darurat berupa alsintan untuk membantu percepatan pemulihan lahan. Pemerintah juga menyiapkan langkah rehabilitasi agar aktivitas tanam dapat segera kembali berjalan.
Di Aceh, Kementan berkoordinasi dengan pemerintah daerah, dinas pertanian, dan kelompok tani untuk memastikan bantuan tepat sasaran. Sementara di Sumatera Utara, fokus utama diarahkan pada normalisasi lahan pertanian yang terdampak banjir agar musim tanam dan produksi pangan tidak terganggu.
Amran juga menginstruksikan seluruh jajaran Kementan untuk bersinergi dengan kementerian dan lembaga lain, TNI, Polri, serta relawan dalam penanganan bencana, termasuk menjaga ketersediaan stok pangan dan pendampingan bagi petani.
“Kami ingin memastikan petani tidak berjuang sendiri. Dengan kerja cepat dan kolaborasi semua pihak, kami optimistis sektor pertanian di tiga provinsi ini bisa segera pulih,”tuturnya.
Editor: Redaksi TVRINews
