Penulis: Lidya Thalia.S
TVRINews, Jakarta
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, menegaskan bahwa pendidikan harus dimaknai sebagai proses membangun karakter dan peradaban bangsa, bukan sekadar penyampaian materi pelajaran di kelas.
Hal tersebut disampaikannya saat menjadi pembicara kunci dalam dialog pendidikan bertema “Menata Fondasi Belajar: Menciptakan Sekolah Aman, Nyaman, dan Bermartabat bagi Guru dan Siswa” di Pekalongan, Jawa Tengah, Jumat, 3 April 2026, yang dihadiri ratusan kepala sekolah dan guru.
Menurut Mu’ti, pembentukan karakter di sekolah tidak hanya dilakukan melalui kurikulum formal, tetapi juga melalui hidden curriculum atau pembiasaan nilai-nilai dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah. Ia menilai pembiasaan sikap seperti disiplin, sopan santun, dan saling menghargai merupakan bagian penting dalam membangun budaya sekolah yang aman dan nyaman.
“Pendidikan adalah proses membangun karakter dan peradaban. Karena itu, guru tidak hanya menjadi agent of learning, tetapi juga harus menjadi agent of civilization,”kata Mu’ti dalam keterangan tertulis, Sabtu, 4 April 2026.
Ia menjelaskan, budaya sekolah aman dan nyaman merupakan lingkungan pendidikan yang menjamin kebutuhan spiritual, perlindungan fisik, kesejahteraan psikologis, keamanan sosial budaya, serta keamanan digital bagi seluruh warga sekolah. Hal ini sejalan dengan kebijakan pemerintah mengenai budaya sekolah aman dan nyaman.
Dalam membangun karakter siswa, Mu’ti menekankan pentingnya pembelajaran yang memuliakan manusia. Ia menyebut hubungan antara guru, murid, dan ilmu harus dilandasi sikap saling menghormati.
“Kata kunci dalam pembelajaran di sekolah adalah memuliakan. Guru harus memuliakan murid, murid menghormati guru, dan keduanya memuliakan ilmu,”jelasnya.
Ia juga menjelaskan bahwa pendekatan pembelajaran perlu dilakukan melalui konsep deep learning, yaitu pembelajaran yang mindful, meaningful, dan joyful, sehingga siswa tidak hanya menerima materi, tetapi memahami secara mendalam dan terlibat aktif dalam proses belajar.
Selain itu, Mu’ti menegaskan bahwa peran guru tidak hanya mengajar, tetapi juga membimbing siswa secara menyeluruh, baik dalam aspek akademik, sosial, maupun emosional. Karena itu, guru diharapkan dapat berperan sebagai wali yang mendampingi perkembangan siswa.
Terkait penerapan disiplin di sekolah, Mu’ti mengingatkan agar pendekatan yang digunakan harus bersifat mendidik dan bebas dari kekerasan. Menurutnya, disiplin harus dibangun melalui kesadaran, bukan hukuman fisik.
Ia juga menambahkan bahwa penyelesaian persoalan di sekolah sebaiknya dilakukan melalui dialog dan pembinaan, dengan melibatkan komunikasi antara sekolah dan orang tua agar hubungan tetap terjaga.
Melalui penguatan karakter, pembiasaan nilai, dan budaya sekolah yang aman dan nyaman, pemerintah berharap sekolah tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu, tetapi juga menjadi ruang yang memanusiakan, memuliakan, dan membentuk peradaban bangsa secara berkelanjutan.
Editor: Redaktur TVRINews
