
Penulis: Nisa Alfiani
TVRINews, Jakarta
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menegaskan pemerintah terus membuka ruang impor minyak dari berbagai negara, termasuk Rusia, sebagai langkah antisipasi atas terganggunya pasokan energi dunia akibat eskalasi ketegangan di Timur Tengah.
“Kalau keputusan impor dari Rusia sudah final, tentu akan kami sampaikan. Untuk saat ini, semua opsi tetap terbuka karena pemerintah wajib menjaga ketersediaan BBM nasional,” ujar Bahlil dalam keterangannya, Selasa, 7 April 2026.
Situasi global memanas setelah Iran menutup akses di Selat Hormuz, salah satu jalur utama distribusi minyak dunia, menyusul ketegangan dengan Israel dan Amerika Serikat. Kondisi tersebut berdampak pada tersendatnya suplai dan meningkatnya kompetisi antarnegara untuk mengamankan pasokan energi.
Bahlil menjelaskan bahwa pasar minyak internasional kini berada dalam kondisi yang sangat tidak stabil. Mekanisme perdagangan yang biasanya berjalan teratur kini mengalami perubahan drastis.
“Sekarang bukan lagi soal memilih negara asal. Yang tersedia itu yang kita kejar, karena seluruh dunia sedang berebut,” ungkapnya.
Ia juga menyampaikan bahwa proses jual beli minyak menjadi semakin dinamis. Dalam beberapa kasus, kargo yang sudah dipastikan melalui sistem tender bisa dialihkan kepada pihak lain jika terdapat penawaran harga lebih tinggi.
“Bahkan ketika tender sudah selesai dan kargo sudah siap, jika muncul pembeli yang berani membayar lebih, barang itu bisa berpindah. Jadi persaingannya memang sangat ketat,” jelasnya.
Untuk itu, pemerintah tengah menyiapkan berbagai alternatif sumber pasokan demi memastikan konsumsi bahan bakar masyarakat tidak terganggu.
“Fokus pemerintah jelas: BBM harus tetap tersedia di Indonesia apa pun kondisi globalnya,” tegas Bahlil.
Editor: Redaktur TVRINews
