
Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Wamendukbangga)/Wakil Kepala BKKBN, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka (TVRINews/Krisafika Taraisya)
Penulis: Krisafika Taraisya Subagio
TVRINews, Jakarta
Pemerintah menegaskan peran strategis perempuan sebagai pilar utama pembangunan sumber daya manusia (SDM) dalam momentum peringatan Hari Kartini 2026. Penegasan ini disampaikan dalam kegiatan SPRIN Kartini Day 2026 yang digelar di Rumah Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) Nasional, Selasa, 21 April 2026.
Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Wamendukbangga)/Wakil Kepala BKKBN, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, menyatakan bahwa kemajuan perempuan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kemajuan bangsa.
"Momentum Hari Kartini mengingatkan kita bahwa perempuan tidak hanya berperan di ranah domestik, tetapi juga memiliki kontribusi besar dalam ruang publik dan pembangunan nasional," ujar Isyana kepada wartawan termasuk tvrinews.com di Rumah Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) Nasional, Jakarta, Selasa, 21 April 2026.
Kemudian ia menekankan, meskipun berbagai kemajuan telah dicapai sejak era perjuangan Raden Ajeng Kartini, perempuan Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan, khususnya di bidang kesehatan. Di antaranya adalah masih tingginya angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB), ancaman kanker serviks, serta persoalan stunting.
Menurutnya, upaya peningkatan kesehatan perempuan harus dilakukan secara komprehensif, tidak hanya berfokus pada penanganan, tetapi juga mencakup aspek pencegahan, edukasi, dan penguatan sistem layanan.
Dalam konteks pembangunan nasional, pemerintah mengacu pada arah kebijakan Asta Cita yang menempatkan penguatan SDM sebagai prioritas utama. Perempuan, kata dia, tidak lagi diposisikan sebagai penerima manfaat semata, melainkan sebagai subjek pembangunan yang berperan aktif dalam menentukan masa depan bangsa.
"Kesehatan perempuan menjadi sangat strategis, karena kualitas SDM dimulai sejak sebelum kelahiran, bahkan sejak perencanaan keluarga," jelasnya.
Ia menambahkan, perempuan yang sehat akan melahirkan generasi yang sehat, sementara keluarga yang berkualitas menjadi fondasi penting menuju Indonesia Emas 2045.
Untuk itu, pemerintah terus mendorong penguatan intervensi berbasis keluarga, peningkatan kualitas kesehatan ibu dan anak, serta edukasi yang menjangkau hingga tingkat komunitas. Namun, keberhasilan program tersebut sangat bergantung pada kolaborasi lintas sektor.
Selama ini, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga telah bekerja sama dengan Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) dalam berbagai program, seperti pelayanan keluarga berencana, termasuk Metode Operasi Wanita (MOW), KB pascapersalinan, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan, hingga edukasi masyarakat.
Dalam kegiatan ini, POGI juga meluncurkan sejumlah inisiatif, antara lain Rumah Perempuan Indonesia sebagai layanan terintegrasi, pelaksanaan vaksinasi HPV untuk pencegahan kanker serviks, distribusi suplemen gizi, serta edukasi melalui podcast dan program Sprint Talk.
Lebih lanjut, Wamendukbangga mengapresiasi langkah tersebut sebagai bentuk nyata kontribusi organisasi profesi dalam mendukung peningkatan kualitas kesehatan perempuan Indonesia.
Di akhir pernyataannya, ia mengajak seluruh pihak untuk memperkuat sinergi dan memastikan berbagai program dapat berjalan berkelanjutan serta menjangkau masyarakat lebih luas.
"Pada akhirnya, menyelamatkan perempuan Indonesia adalah menyelamatkan masa depan bangsa," tegasnya.
Editor: Redaksi TVRINews
