TVRINews, Jakarta
Ketua Komisi Pesantren Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Basnang Said, menegaskan pentingnya menjaga otoritas keilmuan pesantren berbasis kitab kuning di tengah perkembangan zaman dan tuntutan modernisasi pendidikan.
Hal itu disampaikan Basnang Said dalam kegiatan Short Course Kurikulum Pesantren bertema "Integrasi Kurikulum Pesantren: Menghubungkan Tradisi dengan Inovasi Masa Depan" yang digelar Komisi Pesantren MUI Pusat di Aula Buya Hamka, Kantor MUI Pusat, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu, 23 Mei 2026.
Menurut Basnang, pembentukan Komisi Pesantren di lingkungan MUI Pusat memiliki nilai filosofis yang sangat mendasar karena marwah dan fatwa-fatwa MUI selama ini bertumpu pada substansi keilmuan yang bersumber dari kitab kuning.

"Marwah dan fatwa-fatwa MUI selama ini bertumpu pada substansi keilmuan yang bersumber dari kitab kuning. Otoritas penuh dalam mengkaji, memahami, dan mengontekstualisasikan kitab-kitab klasik tersebut secara sanad keilmuan berada di tangan para kiai, pengasuh, dan santri pondok pesantren," ujar Basnang Said dalam keterangan tertulis, dikutip dari siaran pers yang diterima tvrinews.com, Minggu, 24 Mei 2026.
Ia menilai keberadaan Komisi Pesantren menjadi jembatan penting agar otoritas keilmuan khas pesantren dapat terus memperkuat keputusan-keputusan keagamaan di tingkat nasional.
Kegiatan short course tersebut diikuti lebih dari 50 pengasuh dan praktisi pesantren dari berbagai daerah. Agenda ini digelar sebagai respons terhadap tantangan era disrupsi digital serta implementasi Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren.
Dalam forum itu, para peserta mendapatkan dua materi utama dari akademisi dan pakar pesantren. Sesi pertama menghadirkan M. Noor Harisudin yang membahas digitalisasi kurikulum dan perpustakaan pesantren guna mengintegrasikan tradisi dengan standar akademik modern.
Sementara sesi kedua diisi R. Yani'ah Wardani yang memaparkan desain kurikulum pesantren salafi berbasis kitab kuning, termasuk metode pembelajaran sorogan dan bandongan sebagai fondasi pembentukan karakter santri.
Melalui kegiatan ini, MUI berharap pesantren mampu melahirkan generasi santri yang tetap kokoh dalam tradisi keilmuan klasik, namun juga adaptif dan siap menghadapi tantangan masa depan.










