
Foto: Kemenbud
Penulis: Ridho Dwi Putranto
TVRINews, Jakarta
Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, bertemu dengan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Republik Kazakhstan merangkap Republik Tajikistan, Mochamad Fadjroel Rachman, di Kantor Kementerian Kebudayaan, Jakarta.
Pertemuan tersebut membahas berbagai agenda strategis untuk memperkuat kerja sama budaya antara Indonesia dan Kazakhstan. Salah satu agenda utama yang dibahas adalah rencana penyelenggaraan forum kultural dalam rangka kunjungan Presiden Kazakhstan, Kassym-Jomart Tokayev, ke Indonesia yang direncanakan berlangsung pada Juli mendatang.
Fadli Zon menyampaikan dukungannya terhadap berbagai peluang kolaborasi budaya antara kedua negara. Ia menilai kerja sama tersebut dapat menjadi sarana penting untuk memperkuat diplomasi budaya Indonesia di tingkat internasional.
Dalam pertemuan tersebut, Fadjroel Rachman menjelaskan bahwa kunjungan kenegaraan Presiden Tokayev masih dalam tahap koordinasi, termasuk pembahasan di tingkat kementerian luar negeri kedua negara.
“Selain agenda forum politik dan forum bisnis, direncanakan pula penyelenggaraan forum kultural yang menampilkan pertunjukan seni kolaboratif Indonesia-Kazakhstan,” jelas Dubes Fadjroel dalam keterangannya yang diterima, Rabu, 4 Maret 2026.
Menanggapi rencana tersebut, Kementerian Kebudayaan menyatakan kesiapan untuk mendukung penyelenggaraan forum budaya, termasuk memetakan lokasi pertunjukan yang akan digelar.
Kedua pihak juga membahas kemungkinan penandatanganan memorandum kerja sama kebudayaan antar kementerian dalam momentum kunjungan tersebut.
Selain forum budaya, pembahasan juga mencakup pengembangan kerja sama di bidang pencak silat. Menurut Fadjroel, olahraga bela diri tradisional Indonesia itu berkembang pesat di Kazakhstan dan telah meraih berbagai prestasi di tingkat internasional.
Fadli Zon menegaskan bahwa pencak silat tidak hanya memiliki dimensi olahraga, tetapi juga nilai seni dan tradisi yang menjadi bagian dari warisan budaya takbenda.
“Di kebudayaan, yang kita dorong adalah tradisinya, silat sebagai warisan budaya takbenda,” kata dia.
Sebagai langkah lanjutan, Indonesia membuka peluang pengiriman praktisi pencak silat ke Kazakhstan guna memperkuat pengembangan aspek seni dan tradisinya.
Pertemuan tersebut juga membahas peluang kerja sama di industri film. Fadjroel mengungkapkan adanya minat dari sutradara Kazakhstan untuk melakukan produksi film di sejumlah lokasi di Indonesia.
Di sisi lain, beberapa film Indonesia juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Rusia dan diputar dalam kegiatan nonton bersama di Kazakhstan.
Menanggapi hal itu, Fadli Zon mendorong kolaborasi perfilman melalui skema ko-produksi dengan mitra di Indonesia. Ia juga membuka peluang bagi sineas Kazakhstan untuk berpartisipasi dalam Jogja-NETPAC Asian Film Festival serta pasar filmnya, JAFF Market, sebagai bagian dari penguatan ekosistem industri film kedua negara.
Tak hanya sektor film, kerja sama juga dijajaki dalam bidang museum serta partisipasi Indonesia dalam kompetisi menyanyi internasional Voice of Turan yang diikuti sekitar 20 negara.
Partisipasi Indonesia dalam ajang tersebut dinilai dapat memperkuat citra budaya Indonesia di kawasan Asia Tengah.
Melalui pertemuan ini, Kementerian Kebudayaan menegaskan komitmennya untuk memperkuat diplomasi budaya sebagai jembatan hubungan bilateral Indonesia dan Kazakhstan. Kolaborasi tersebut diharapkan tidak hanya memperluas pertukaran budaya, tetapi juga memperkuat ekosistem kreatif serta promosi budaya secara berkelanjutan.
Editor: Redaktur TVRINews
