
Foto: TVRINews/HO-Kementan
Penulis: Ridho Dwi Putranto
TVRINews, Bandung
Kementerian Pertanian (Kementan) memastikan pasokan dan harga komoditas peternakan di wilayah Bandung dalam kondisi relatif terkendali. Hal itu berdasarkan hasil pemantauan yang dilakukan di Rumah Potong Hewan (RPH) Kabupaten Bandung dan Pasar Kiaracondong, Kota Bandung, pada 20–21 Februari 2026.
Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Kementan, Makmun, mengatakan struktur harga di tingkat hulu masih sesuai dengan Harga Acuan Pemerintah (HAP).
Di Pasar Kiaracondong, harga daging sapi tercatat Rp140.000 per kilogram. Sementara untuk daging has, sebagian pedagang menjual dengan harga Rp150.000 per kilogram atau sekitar 7 persen di atas HAP. Harga tertinggi tersebut umumnya dijual oleh pedagang tingkat dua (penimbang).
Adapun pedagang tingkat satu yang membeli langsung dari bandar di RPH menjual daging sapi pada kisaran Rp130.000–Rp140.000 per kilogram, dengan harga beli karkas Rp105.000–Rp107.000 per kilogram.

“Harga karkas di RPH masih berada dalam koridor acuan. Kenaikan harga di pasar lebih disebabkan oleh margin di tingkat pedagang,” ujar Makmun, dikutip Senin, 23 Februari 2026.
Ia menambahkan, aktivitas pemotongan di RPH MBC rata-rata mencapai 15 ekor sapi per hari. Pasokan sapi siap potong dinilai cukup dan dalam kondisi aman. Berdasarkan pemantauan, tidak ditemukan persoalan harga di tingkat feedlot maupun bandar sapi di RPH.
Untuk komoditas daging ayam, harga di Pasar Kiaracondong tercatat Rp42.000 per kilogram atau naik sekitar 5 persen dibandingkan HAP.
Pedagang memperoleh pasokan ayam dari bandar di wilayah Lembang dan sekitarnya dengan harga Rp26.000 per kilogram, sedangkan harga ayam hidup di kandang berada pada kisaran Rp22.500–Rp23.000 per kilogram.
Makmun menegaskan tidak ada kenaikan harga di tingkat peternak maupun perusahaan unggas terintegrasi.
“Harga ayam hidup di kandang masih sesuai acuan. Yang perlu dijaga adalah stabilitas distribusi dan margin di hilir agar tetap wajar,” katanya.
Sementara itu, harga telur ayam ras di Pasar Kiaracondong tercatat Rp29.500 per kilogram, masih berada di bawah HAP. Kondisi tersebut menunjukkan pasokan telur mencukupi dan produksi berjalan baik.
Secara umum, Kementan tidak menemukan kenaikan harga di tingkat peternak, bandar, maupun perusahaan integrasi. Seluruh pelaku usaha dinilai masih mengikuti harga acuan yang ditetapkan pemerintah pusat melalui Badan Pangan Nasional.
“Kami akan terus melakukan pemantauan agar rantai pasok tetap efisien dan masyarakat dapat memperoleh protein hewani dengan harga terjangkau,” ujar Makmun.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar), Mukhlis Wahyudi, menegaskan komitmen pelaku usaha perunggasan untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga.
“Anggota Pinsar di tingkat peternak tetap mengikuti harga acuan yang ditetapkan pemerintah. Distribusi ayam hidup dan karkas ke pasar juga kami pastikan berjalan lancar agar tidak terjadi gejolak harga,” katanya.
Sementara itu, Ketua Asosiasi Bandar Daging Jawa Barat (Apresiasi Nusantara), Baehaqi, menyatakan komitmen para bandar untuk menjaga harga karkas atau brokos pada kisaran Rp105.000–Rp107.000 per kilogram sesuai arahan pemerintah.
Menurutnya, dengan harga tersebut seharusnya tidak ada alasan bagi pedagang atau pengecer menjual daging sapi di atas Rp140.000 per kilogram.
“Komitmen ini akan terus kami sosialisasikan dan koordinasikan dengan seluruh bandar, jongko, dan pengecer,” ujar Baehaqi.
Editor: Redaksi TVRINews
