
dok. Kemenkes
Penulis: Lidya Thalia.S
TVRINews, Jakarta
Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa kusta hingga kini masih kerap distigmatisasi akibat minimnya pemahaman masyarakat. Padahal, kusta bukan penyakit kutukan, melainkan penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri, sulit menular, memiliki tingkat fatalitas yang sangat rendah, serta dapat disembuhkan dengan pengobatan yang tersedia.
Pernyataan tersebut disampaikan Menkes Budi dalam talkshow bertajuk “Ending Leprosy Without Stigma” yang digelar di Gedung Kementerian Kesehatan RI, Kamis, 15 Januari 2026. Acara ini turut menghadirkan WHO Goodwill Ambassador for Leprosy Elimination, Yohei Sasakawa, serta penyintas kusta, Samsul, yang berbagi pengalaman terkait dampak stigma dan pentingnya edukasi publik.
“Kusta bukan kutukan. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri, penularannya sangat sulit dan membutuhkan waktu lama. Yang terpenting, kusta sudah ada obatnya dan bisa sembuh,”kata Menkes Budi dalam keterangan tertulis, Jumat, 16 Januari 2026.
Ia menjelaskan, stigma yang melekat pada kusta membuat banyak penderita merasa takut dan malu untuk memeriksakan diri. Akibatnya, pengobatan sering kali terlambat dilakukan. Menurutnya, penyampaian informasi yang benar dan berbasis fakta menjadi kunci untuk memutus stigma sekaligus mempercepat penanganan kusta di masyarakat.
Dalam kesempatan yang sama, Yohei Sasakawa menyampaikan optimismenya terhadap upaya Indonesia dalam mengeliminasi kusta. Ia menilai komitmen pemerintah Indonesia yang kuat menjadi modal penting dalam mencapai target penghapusan kusta.
“Dengan komitmen yang sangat kuat ini, saya yakin Indonesia akan mampu mengeliminasi kusta,”ujar Sasakawa.
Menkes Budi menambahkan, meningkatnya jumlah kasus kusta yang terdeteksi setelah berbagai program penanggulangan dijalankan justru menunjukkan perkembangan yang positif. Hal tersebut menandakan semakin banyak penderita yang berani melapor dan mendapatkan pengobatan secara dini.
Sementara itu, Samsul, penyintas kusta sejak 1999, menceritakan pengalamannya menghadapi diskriminasi akibat kurangnya pengetahuan masyarakat. Ia mengaku sempat dijauhi lingkungan sekitar karena stigma yang berkembang.
“Awalnya teman-teman menjauhi saya karena mereka tidak tahu. Setelah saya jelaskan dan mereka melihat saya baik-baik saja, lama-kelamaan mereka bisa menerima dan berteman kembali, bahkan sampai saya kuliah,”ungkap Samsul.
Menurutnya, penyebaran informasi yang sederhana dan mudah dipahami, terutama kepada guru dan masyarakat luas, sangat penting untuk menghapus anggapan bahwa kusta adalah penyakit menakutkan dan tidak dapat disembuhkan.
Editor: Redaksi TVRINews
