
Foto: Ilustrasi peserta retret (RRI/Wiedyas Cahyono)
Penulis: Nirmala Hanifah
TVRINews, Jakarta
Sebanyak 87 kepala daerah akan menjalani pemeriksaan kesehatan terlebih dahulu di Poliklinik Badan Pengembangan SDM Kemendagri, Kalibata, Jakarta Selatan pada Sabtu, 21 Juni 2025 hari ini.
Selain itu, pada pemeriksaan akan disediakan gelang dengan tiga warna yang berbeda dengan memiliki masing-masing arti seperti gelang merah berarti sakit, gelang kuning berarti perlu observasi, dan gelang hijau berarti sehat.
Pengecekan kesehatan ini, merupakan bagian awal untuk memastikan kelancaran kegiatan
Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto mengatakan jika tes kesehatan ini akan berlangsung pada pukul 12.00-15.00 WIB pada Sabtu, 20 Juni 2025
Selain itu, ia menerangkan jika nantinya retret gelombang dua kepala daerah ini, akan berbeda dengan retret gelombang pertama.
Dimana, nantinya para kepala daerah akan berkumpul di Kemendagri sebelum menuju lokasi retret gelombang kedua di Kampus Institut Pendidikan Dalam Negeri (IPDN) Jatinangor, Jawa Barat.
Bima menuturkan, jika nantinya rombongan kepala daerah akan menggunakan kereta cepat whoosh dari Jakarta ke IPDN untuk menjalankan retret.
“Hari minggu tanggal 22 Juni 2025, para peserta akan berkumpul di Kemendagri, dan nanti akan dilepas oleh Pak Sekjen Kemendagri Tomsi Tohir untuk selanjutnya menggunakan whoosh kereta cepat menuju Jatinangor,” ujarnya.
Setibanya di lokasi, akan digelar apel pembukaan yang disebut "apel manggala", serupa dengan parade senja di Akademi Militer.
Dalam kegiatan retret ini, sejumlah menteri dari Kabinet Merah Putih juga dijadwalkan hadir sebagai narasumber.
“Materi yang akan disampaikan mencakup pemahaman umum mengenai tugas kepala daerah, program prioritas nasional, strategi pemberantasan korupsi, serta upaya membangun sinergi dan kolaborasi antardaerah,” jelasnya
Bima Arya menekankan pentingnya kegiatan ini sebagai wadah untuk mempererat hubungan antar kepala daerah.
"Dari evaluasi retret gelombang pertama, para peserta menilai bahwa manfaat terbesar dari kegiatan ini adalah kesempatan untuk saling mengenal dan membangun sinergi di lapangan," tutupnya.
Baca Juga: Musim Kemarau Mundur, BMKG: Baru 19% Wilayah Indonesia Alami Peralihan
Editor: Redaktur TVRINews
