
Foto: Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Piprim Basarah Yanuarso
Penulis: Lidya Thalia.S
TVRINews, Jakarta
Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Piprim Basarah Yanuarso menegaskan peningkatan kasus campak pada anak dalam beberapa waktu terakhir harus menjadi alarm serius bagi semua pihak. Hal itu disampaikannya dalam Seminar Media bertajuk “Update Kasus Campak pada Anak, Apa yang Harus Dilakukan?” yang digelar secara daring.
Piprim mengatakan, di sejumlah daerah dokter anak kembali banyak menemukan pasien campak. Mayoritas kasus terjadi pada anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap.
“Ini wake up call bagi kita semua. Campak tidak bisa dianggap penyakit ringan. Kita sudah melihat dampaknya, bahkan ada laporan kematian anak akibat campak dan komplikasinya,” ujar Piprim dalam keterangan yang diterima tvrinews melalui zoom, Sabtu, 28 Februari 2026.
Menurutnya, campak termasuk Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I). Vaksin tersedia secara gratis melalui layanan kesehatan pemerintah. Namun, rendahnya cakupan imunisasi di sejumlah wilayah menjadi celah munculnya kembali kejadian luar biasa (KLB).
Piprim menjelaskan, campak memiliki tingkat penularan sangat tinggi, bahkan lebih mudah menular dibandingkan Covid-19. Karena itu, cakupan imunisasi harus mencapai ambang kekebalan kelompok (herd immunity). Jika cakupan turun signifikan, misalnya hanya sekitar 60 persen, maka potensi KLB akan meningkat.
“Kalau cakupan imunisasi tidak tercapai, maka kasus akan bermunculan di berbagai daerah,”jelasnya.
Ia menambahkan, kendala imunisasi di lapangan beragam, mulai dari keterbatasan akses layanan, kerusakan rantai dingin vaksin, hingga penolakan dari sebagian masyarakat. Selain itu, ketersediaan stok vaksin juga harus dipastikan agar pelayanan berjalan optimal.
Lebih lanjut, Piprim mengungkapkan, campak bukan sekadar demam dan ruam. Penyakit ini dapat menimbulkan komplikasi serius seperti radang paru (pneumonia), radang otak (ensefalitis), hingga kebutaan. Pada kondisi tertentu, campak juga bisa berujung pada kematian jika tidak ditangani secara cepat dan tepat.
IDAI mendorong penguatan layanan kesehatan primer, termasuk peningkatan cakupan imunisasi dan deteksi dini kasus. Organisasi profesi tersebut juga menjalankan program Pediatrician Social Responsibility, di mana dokter spesialis anak turun langsung mendampingi tenaga kesehatan di puskesmas.
Selain imunisasi, Piprim menekankan pentingnya perbaikan gizi anak, terutama asupan protein hewani, untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Orang tua juga diminta mengenali tanda bahaya campak, seperti sesak napas atau gejala pneumonia, dan segera membawa anak ke fasilitas kesehatan jika kondisi memburuk.
“Campak sudah terbukti bisa menyebabkan kematian pada anak. Jangan sampai dianggap remeh. Kita semua, pemerintah, tenaga kesehatan, media, dan masyarakat, harus bersama-sama memperkuat pencegahan,”tuturnya.
Editor: Redaktur TVRINews
