
dok. BMKG
Penulis: Lidya Thalia.S
TVRINews, Jakarta
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi kemunculan tiga bibit siklon tropis di sekitar wilayah Indonesia yang berpotensi meningkatkan cuaca ekstrem dalam beberapa hari ke depan. Dampak tidak langsung dari fenomena ini diperkirakan berupa hujan lebat, angin kencang, hingga gelombang tinggi di sejumlah daerah.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengatakan berdasarkan pemantauan Tropical Cyclone Warning Center (TCWC) Jakarta hingga Selasa, 3 Maret 2026 pukul 07.00 WIB, terdapat tiga sistem yang tengah aktif.
Ketiganya adalah Bibit Siklon Tropis 90S di Samudra Hindia selatan Banten–Jawa Barat, Bibit Siklon Tropis 93S di barat laut daratan Australia, serta Bibit Siklon Tropis 92P di Teluk Carpentaria, selatan Papua Selatan.
“Kami memantau pergerakan ketiga bibit siklon ini selama 24 jam penuh. Masyarakat diimbau tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi dampak tidak langsung seperti genangan dan angin kencang. Pastikan informasi yang diperoleh hanya dari kanal resmi BMKG untuk menghindari hoaks,”kata Faisal dalam keterangan tertulis, Selasa, 3 Maret 2026.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, menjelaskan hasil analisis terbaru menunjukkan Bibit Siklon 90S memiliki peluang tinggi berkembang menjadi siklon tropis dalam 24–48 jam ke depan. Adapun 93S dan 92P berpeluang rendah untuk berkembang, namun tetap berpotensi memengaruhi kondisi cuaca dan perairan Indonesia.
Menurut Andri, kemunculan ketiga sistem tersebut meningkatkan gradien tekanan udara yang berdampak pada penguatan kecepatan angin permukaan serta pemusatan massa udara. Kondisi ini didukung suhu muka laut yang relatif hangat di perairan selatan dan timur Indonesia, serta terbentuknya area pertemuan angin (konfluensi) dari Bali hingga Nusa Tenggara Timur.
Dampaknya, potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat diperkirakan terjadi di Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, NTB, dan NTT. Selain itu, angin kencang berpotensi melanda Bali, DI Yogyakarta, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung, Maluku, NTB, NTT, Sulawesi Selatan, serta pesisir selatan Papua Selatan.
Pelaksana Harian Direktur Meteorologi Publik BMKG, Ida Pramuwardani, menambahkan peningkatan kecepatan angin di sekitar sistem turut berdampak pada kondisi perairan. Gelombang kategori sedang hingga tinggi (1,25–2,5 meter) berpotensi terjadi di Laut Flores, Laut Banda, Selat Sunda, dan Samudra Hindia barat Kepulauan Mentawai.
Sementara itu, gelombang tinggi dengan ketinggian 2,5–4 meter berpeluang terjadi di Samudra Hindia barat Bengkulu hingga Lampung, perairan selatan Banten hingga Bali, Laut Sawu, selatan NTB dan NTT, serta Laut Arafura.
BMKG memastikan akan terus memantau perkembangan ketiga sistem tersebut dan memperbarui informasi secara berkala. Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi hujan lebat yang dapat disertai kilat atau petir dan angin kencang, serta mengantisipasi dampak hidrometeorologi seperti genangan, banjir, dan tanah longsor di wilayah rawan.
Nelayan dan pengguna transportasi laut juga diimbau memperhatikan prakiraan tinggi gelombang sebelum beraktivitas. Informasi cuaca terkini dapat diakses melalui kanal resmi Info BMKG maupun laman resmi pemantauan siklon tropis BMKG.
Editor: Redaksi TVRINews
