TVRINews, Jakarta
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Meteorologi Kelas II Maritim Belawan memprakirakan gelombang laut setinggi 1,25 hingga 2,5 meter berpotensi terjadi di sejumlah perairan Kepulauan Nias pada 15–17 Juni 2026.
Kondisi tersebut dipengaruhi dinamika atmosfer dan kelautan yang mendukung peningkatan aktivitas cuaca di wilayah Sumatera Utara, termasuk pembentukan awan hujan.
Prakirawan Stasiun Meteorologi Maritim Belawan, Christen Marpaung, menjelaskan aktivitas gelombang ekuatorial Rossby dan Kelvin yang disertai belokan angin di wilayah Sumatera Utara menjadi salah satu faktor pemicu meningkatnya pertumbuhan awan konvektif.
“Kombinasi gelombang ekuatorial Rossby dan Kelvin serta adanya belokan angin di wilayah Sumatera Utara mendukung terbentuknya awan-awan konvektif yang berpotensi memicu hujan,” ujar Christen Marpaung, Minggu, 14 Juni 2026.
Selain itu, suhu muka laut yang relatif hangat di perairan barat dan selatan Sumatera turut memperkuat proses penguapan sehingga meningkatkan pasokan uap air di atmosfer.
“Suhu permukaan laut yang hangat meningkatkan penguapan dan kandungan uap air di atmosfer. Kondisi ini turut mendukung pembentukan awan hujan di wilayah Sumatera Utara,” katanya.
BMKG mencatat wilayah yang berpotensi mengalami gelombang 1,25–2,5 meter meliputi Perairan Barat Kepulauan Nias, Perairan Timur Kepulauan Nias, Perairan Kepulauan Batu, Perairan Barat Kepulauan Batu, hingga Samudera Hindia Barat Kepulauan Nias.
BMKG juga mengingatkan potensi risiko terhadap aktivitas pelayaran, terutama bagi perahu nelayan dan kapal tongkang yang beroperasi di kawasan tersebut.
“Kondisi ini perlu menjadi perhatian pelaku pelayaran karena dapat meningkatkan risiko keselamatan, terutama bagi kapal berukuran kecil yang beroperasi di wilayah perairan terdampak,” ucap Christen.
Masyarakat pesisir, nelayan, dan operator transportasi laut diimbau untuk terus memperbarui informasi cuaca maritim serta mempertimbangkan kondisi gelombang sebelum melakukan pelayaran.










